Jumat, 28 November 2025

Surat Ibu Buat Nara

Hai Noot! It's me :) Ha ha ha
Ibu disuruh nulis surat buat U, wah bakal jadi panjang nih yappingnya.
Mulai ya..jangan nangis dulu hahaha

4 April 2029, hari yang ga bakal Ibu dan Aji lupain. Inget banget malem2 di rumah sakit siap-siap operasi cesar. Long strory short, kamu lahir dengan selamat dan sehat. Bayi gemoy Ibu Aji. Ibu Aji bersyukur dan happy kamu lahir. 
Saat kamu lahir jadi anak, Ibu Aji juga lahir jadi orang tua. 
Aji pertama kali gendong kamu, masih ngerasa kayak mimpi.
Sedangkan Ibu, masih dengan nahan sakit bekas operasi, clueless.
Semua ilmu dan teori yang Ibu pelajari sebelum kamu lahir, hilang. 

Hari pertama..hari kedua...air susu Ibu belum keluar. Kamu nangis terus. 
Ibu stress, takut, sedih, bingung.. semua rasa tiba-tiba datang tanpa sempat Ibu proses. Tapi untungnya ada Aji. Aji support terus dan nguatin Ibu.
Aji melakukan apapun yg Aji bisa untuk membantu Ibu. maklum, baru pertama jadi orang tua :( 
We were still under 30 at that time. 

Kita memang masih belajar, tapi kita bertekad akan berusaha memberikan yg terbaik buat kamu. Rumah sakit yg terbaik, walopun ngutang, karena kondisi ekonomi kita juga belum sebaik sekarang. 
Tapi kamu adalah semangat buat Ibu Aji. Aji yang masih cupu di kantor, berusaha banget jadi ayah terbaik. Selalu menyediakan waktu buat kamu. Mau bantu gendong U, suapin U, ngajak main. 

Apa itu fatherless? ga ada di kamus kita. from day 1, he involved. He's always there for you. 
Ibu yang masih kerja, kerja keras untuk pompa air susu dan membagi waktu. Tau sendiri kerjaan Ibu sangat mobile, sering keluar kota, dan jam kerja ga jelas. 

Pernah satu hari, Ibu lembur di kantor. Kamu nelpon, bilang "Ibu kapan pulang? Nara ga mau gosok gigi sama Mbak Sum. Nara mau Ibu. nara mau nunggu Ibu pulang." wah..I cried. sedih banget rasanya. permintaanmu simple banget, tapi Ibu ga bisa wujudin :(

Long story short, pas umur kamu 3 tahun, Mbak Sum minta resign. Dia mau pulang kampung. Ya udah, Ibu susah buat cari pengganti, akhirnya Ibu memutuskan untuk berhenti kerja. Salah satu keputusan terbesar dalam hidup Ibu.
Dan kembali, Aji support keputusan Ibu. Ibu langsung les nyetir, biar bisa anter jemput kamu ke sekolah.  Sampe sekarang itu jadi moment yang ga akan Ibu sesali. best decision!
Kalau bukan karena kamu, Ibu mungkin ga bisa nyetir sampe sekarang. Makasi ya

Selanjutnya semua berjalan lancar dan baik. ya walopun awal-awal Ibu di rumah, Ibu juga stress sih. Adaptasi dari kerja kantoran ke kerjaan rumah ternyata juga ga mudah. Apalagi kamu suka bandingin Ibu dengan Mbak Sum. "Mbak Sum bikinnya ga gini..Mbak Sum kalau masak ceker enak banget..Nara mau yang kayak dimasak Mbak Sum." Semua Mbak Sum.

Ibu pernah nangis karena sedih dan ngerasa ga bisa jadi Ibu yang yg baik buat kamu. Tapi untungnya proses adaptasi kita ga lama. Kamu tumbuh jadi anak yg baik hati, ceria, penuh imajinasi. Kita sering melukis bareng dan main role play. Inget ga kamu hobi main role play kapal-kapalan?

Kamu juga suka banget hewan. Tiap ke pasar minta beli bebek, kelomang, kelinci, hamster. Kemana-mana juga nyarinya boneka dan balon hewan. 

Eh tau-tau anak kecil si super kacau itu udah besar aja. Bentar lagi mau kuliah. Kata orang, masa tersulit dalam parenting adalah pas anak masuk usia remaja. Tapi, syukurnya Ibu Aji ga pernah merasa sulit/berat.

Kamu tumbuh jadi anak remaja yang baik, penyayang dan ga aneh-aneh. Kegiatan anter jemput sekolah jadi waktu buat kita ngobrol, dari kamu TK sampai SMA. Komunikasi kita di mobil sangat menyenangkan. Ibu jadi lebih mengenal kamu dan mendampingimenjadi pendengar yang baik sekaligus jadi temen diskusi.

Tugas Ibu Aji adalah menjadikan kamu versi terbaik dari dirimu and we see the potential. You have the potential. Ibu Ahi akan support apapun mimpimu.
Maaf ya kalau kadang Ibu Aji keras sama kamu. Maaf Ibu Aji belum bisa jadi orang tua yg sempurna. tapi Ibu Aji akan terus belajar dan berusaha.

Okay, i think this yapp already long. I love you Noot, my Bolo-Bolo!!
Enjoy the rest of your day, see you at home :) 💖💖  


Minggu, 02 November 2025

Hati Yang Terus Merindu

Pagi ini aku membaca berita tentang meninggalnya ayah dari Jerome Polin, seorang content creator yang menjelaskan matematika dengan cara yang menyenangkan. 

Dalam berita itu, dia menceritakan mimpi ayahnya yang belum dapat dipenuhi sebelum ayahnya meninggal ayahnya ingin menggendong cucu. Begitu baca berita itu, hatiku terenyuh dan larut dalam kenanganku tentang Papa.

Semasa Papa masih hidup, mimpinya sangat sederhana. Papa ingin setelah pensiun nanti bisa anter jemput cucunya sekolah. Mimpi yang nyaris bisa aku penuhi. Beberapa bulan sebelum Nara lahir, Papa meninggalkan ku. 

Padahal waktu itu aku berharap Papa bisa membimbingku untuk jadi seorang ayah dan seorang teman yang baik bagi anak-anak sebagaimana yang Papa lakukan kepadaku. 

Tapi aku percaya, walau Papa sudah tidak bisa menemaniku di dunia, Papa akan terus menemani dan membimbingku dari sana. Bahkan mungkin sekarang bisa lebih cepat lompat berada di Bali atau di Jakarta dalam sekejap mata. 

I Miss U Papa

Topik Diskusi Kita

Hari berlalu begitu cepat. Seperti sekelebat malam berganti pagi dalam satu kedipan. Semakin hari, kita larut dan tenggelam dalam aktivitas dan kesibukan kita masing-masing. 

Waktu ngobrol sepertinya hanya tersisa di pagi hari sambil sarapan atau minum kopi, malam hari selepas kerja atau disela-sela akhir pekan. Kenapa di sela-sela akhir pekan? Iya karena kita sibuk dengan aktifitas mengantar Nara dan Gita dengan hobinya masing-masing, dari pagi hingga malam menjelang.

Saat ngobrolpun, topik tidak akan jauh-jauh dari pembahasan aktifitas anak-anak, perkembangan dan rencana sekolah mereka serta topik-topik random lainnya. Kadang di tengah lamunanku, aku merasa bersalah karena sekarang jarang kita membahas topik tentang kita. Iya, topik tentang kita berdua.

Aku merasa mungkin ini sebuah phase dalam kehidupan dimana fokus sedikit berubah dari aku dan kamu menjadi mereka. Anak-anak semakin dewasa dan perlu banyak bimbingan. Aku bersyukur kamu "tahan" dan selalu siap mendengar celoteh mereka yang seperti penyiar radio, tanpa putus. Kebayang dari pagi hingga larut malam.

Aku juga merasa ini adalah bagian dari tanggung jawab kita menghadirkan mereka ke dunia. Tanggung jawab yang harus kita tuntaskan bersama selama dan selagi kita bisa. 

Sekarang ini bukan hanya tentang aku dan kamu. Tapi tentang kita. Aku, Kamu, Nara dan Gita. 

Love You Always My Wife.