Senin, 31 Mei 2021

 Menikah itu adalah pelajaran seumur hidup.

Begitu pesan yang paling aku ingat dari almarhum Bapak mertua, salah satu guru dan mentorku dalam menjalani pernikahan dan belajar lebih santai dalam menjalani kehidupan.  

Senang bisa melayani dan menemani Bapak selama tinggal disini. Tentu semua sekarang tidak akan pernah sama tanpa kehadiran Bapak dalam kehidupan kami.

Aku mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan sebagai anak dan menantu. Tentu Aku tidak bisa membalas semua kebaikan Bapak. Hanya doa yang bisa aku panjatkan semoga Bapak bisa beristirahat dengan tenang dan bahagai disana bersama Ibu.

Walau Bapak dan Ibu sudah tidak ada di dunia bersama lagi, kami sebagai anak tetap memohon agar kami selalu dalam tuntunan mu.

Sampai jumpa dan titip salam buat Papa ya…

Selamat berkumpul dan bahagia bersama disana...



BALI, Aku Pasti KemBALI

Tak sengaja aku browsing di yutube dan menemukan video lagu “Happy Birthday” yang diciptakan oleh Balawan. Pertama kali menonton, aku langsung jatuh cinta akan lagu, lirik, music dan tentu saja video klipnya.

Dengan lagu, lirik yang sederhana namun di bungkus dengan musik dan instrument tradisional, lagu ini menjadi sangat indah. Pelengkap kesempurnaan itu adalah video klip yang menggambarkan suasa keseharian di Bali, rumah tradisionalnya, kegiatan warganya dan pilihan hadiah ulang tahun dari yang sederhana sampai mewah. Aku melihat bahwa perayaan dan hadiah ulang tahun adalah universal, bisa diberikan dan dinikmati oleh semua kalangan. Bahagia tanpa syarat.

Link: https://www.youtube.com/watch?v=EUnSn7LreEA

Sampai melihat video tersebut, pikiranku seketika melayang ke sana. Aku merasa begitu kangen dengan suasana di Bali, keluarga dan segala keceriaannya. Aku terhanyut dalam suasana dimana hati begitu merindu.

Bersyukur sejauh ini masih diberi kesempatan untuk melihat belahan dunia lain namun perasaan emosional dan merindu tidak pernah serasa begitu dalam jika teringat kampung halaman.

Ah…Bali, I love you dan aku pun merindu. See you!!!!

BALI, Aku pasti kemBALI.

Link: https://www.youtube.com/watch?v=4k6jzCr_fCk


38

Bersyukur aku

Melalui senang dan kenang bersama mu

Happy birthday to you

Sayangku, I Love You.


https://www.youtube.com/watch?v=EUnSn7LreEA




Sabtu, 23 Januari 2021

Wisnu

Namanya Wisnu. Dia adalah seorang pedagang jajanan pasar keliling dan setiap pagi sudah menjajakan kuenya di perumahan. Sempat aku bertanya dimana dan jam berapa setiap pagi ambil kue ke supplier. Dia menceritakan kalau tiap pagi jam 4 sudah ambil kue dan jam 6 sudah mulai ngider di komplek.

Tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan tentang Wisnu. Ada sesuatu yang dia lakukan yang menyentil hati nuraniku. Suatu pagi di hari Jumat, aku berkeliling bersama anjingku. Biasa mencari udara segar. Aku melihat Wisnu sedang menghampiri satu persatu ibu-ibu yang bertugas menyapu di komplek perumahanku. Dan mereka jumlahnya 8-10 orang. Satu persatu dia beri sebungkus kue dan ternyata itu sudah lama dia lakukan setiap hari Jumat!

Serasa lemas lututku dan tak bertenaga tanganku. Kadang aku berfikir kita harus kaya dan punya uang banyak dulu untuk bisa memberi lebih ke orang lain namun hari itu aku dibangunkan dan disadarkan oleh Wisnu.

Dia mengajarkanku untuk tidak perlu menunggu kaya untuk bisa memberi kepada orang lain. Yang penting ikhlas dan memberi semampunya. Semoga Wisnu selalu murah rejeki, dalam lindungan Tuhan dan tetap memberi inspirasi untuk semesta. 

40, Hanya Sebuah Angka

Hari ini adalah hari istimewa karena hari ini umurku bertambah satu tahun dan angka depannya pun bertambah satu. Kata orang hidup dimulai sejak umur 40. Tapi bagiku, hidup dimulai sejak kita lahir di dunia.

Hidup yang terus berusaha memberi warna cerah, kebaikan dan kebahagiaan untuk alam semesta. Dalam setiap kayuhan, aku kembali berfikir. Apa tujuan kita hidup di dunia? Hmm…mungkin tujuan kita hidup kedunia adalah untuk bagaiman kita bisa berfungsi bagi orang lain dan kecerian untuk semesta.  

Selamat ulang tahun untuk diriku. Aku emang belum sempurna sebagai seorang manusia. Tapi dibalik ketidaksempurnaan itu, aku selalu ingin membuat semua orang yang aku cintai berbahagia dan tetap menjaga bumi yang telah memberikan aku kehidupan yang indah ini. 



Selasa, 22 September 2020

Almamaterku, Setia Berjasa

“Budi, jadinya kamu mau sekolah dimana?” Pertanyaan itu sontak membuatku terbangun dari lamunan panjangku. Papa tiba-tiba bertanya saat kami sedang mengantri di Bank Mandiri, selepas ujian akhir kelas 3 SMA (EBTANAS). Aku mau jadi pilot, begitu impianku sejak SMP dikarenakan saat itu aku ingin sekali bisa naik pesawat terbang namun tidak punya uang. Belum lagi saudaraku sudah bolak-balik naik pesawat dan bercerita bagaimana enaknya terbang, sedangkan aku hanya bisa memandang pesawat mengangkasa.

Waktu berlalu begitu cepat dan akupun berada di penghujung SMA. Aku baru tersadar jika cita-citaku untuk menjadi pilot mulai menjauh karena gigiku tidak sebagus dan serapi Tom Cruise dan aku  juga menggunakan kaca mata. Apa yang terjadi? Aku tidak tahu kemana aku melangkah.

Setiap ada kakak kelas yang sudah kuliah datang untuk memberikan informasi mengenai kampus tempat mereka kuliah, seketika aku ingin kesana. Datang dari Brawijaya, ingin kesana. Datang dari UGM, ingin kesana. Datang dari ITB, ingin kesana dan terakhir datang dari UI, ingin kesana. Namun jurusan apa yang akan aku ambil? Tidak tahu!

Aku bukan orang terpintar di sekolah, namun aku punya disiplin yang tinggi dalam belajar. Aku tahu kapan harus bermain bola, dan kapan harus belajar. Hanya itu yang bisa aku banggakan sewaktu sekolah selain pernah menjadi ketua OSIS semasa SMA. Oh ya, selain itu aku juga kesayangan guru karena walau aktif di OSIS, nilaiku lumayan lah.

Setelah aku tersadar oleh pertanyaan Papa, aku melihat pegawai Bank yang memakai kemeja dan dasi. Lalu aku berpikir, kayaknya enak juga kerja di Bank. Kalau kerja di Bank jurusan apa yang akan aku ambil? Kayaknya ekonomi deh, begitu dengan sok tahunya aku berkesimpulan.

Akhirnya aku memutuskan untuk mengambil jurusan ekonomi. Lalu kampusnya dimana? Papa dan Mama adalah dosen senior di Universitas Udayana. Namun aku tidak mau kuliah dimana orang tuanya mengajar. Aku tidak mau membebani nama orang tuaku. Aku mau kuliah di luar Bali, begitu tekad ku.

Masa 1998-1999 adalah masa-masa reformasi dimana mahasiswa menjadi motor pergerakan. Di televisi aku melihat jaket kuning ada dimana-mana dan aku tahu kalau jaket kuning itu adalah jaket almamater Universitas Indonesia. Keren ya, aku mau kuliah disana!

Aku aktif bertanya ke guru BP apakah formulir dari UI sudah ada mengingat kampus-kampus lain sudah mengirimkan formulir untuk Penelusuran Minat Dan Kemampuan (PMDK) atau masuk universitas tanpa test.

Berbekal modal kesayangan guru, akhirnya aku di informasikan kalau formulir PMDK UI sudah ada namun hanya tersedia 5 buah. Aku tahu aku bukan yang terpintar. Aku Cuma berharap semoga murid-murid dengan ranking di atasku tidak mengambil sehingga aku bisa kebagian. Puji Tuhan doaku terkabul dan aku kebagian satu formulir.

Tiap hari kerjaanku hanya menanti tukang pos mampir kerumah untuk membawa kabar namun tidak pernah ada sampai suatu hari sekolah menelepon bahwa surat dari UI sudah ada dan aku keterima disana.

Senang, bangga dan bahagia menjadi satu. Pulang dari sekolah untuk mengambil surat, karena melamun bahagia, di traffic light motorku menyundul bemper mobil. Walau tidak rusak parah, namun pemilik mobil marah-marah. Dan aku hanya bisa meminta maaf dan berjanji akan mengganti saat itu juga di bengkel.

Mungkin bapak itu iba melihatku dan ketika mobil keluar dari bengkel, dia tidak meminta sepeserpun uang yang aku sodorkan. Puji Tuhan dan semoga bapak itu selalu penuh karunia terbaik.

Tibalah aku di Universitas Indonesia. Mudah? Tidak ferguso. Namun bangga pernah menjadi bagian darinya dan aku juga ingin bilang, Almamaterku, setia berjasa! 



Vivant Professores

Suara ceria terdengar dari ujung sana. Penantian dan doa sejak bulan Maret 2020 terjawab sudah. Mama akan segera dikukuhkan menjadi Profesor!

Syukur tak terkira kami panjatkan kepada Tuhan sebagai penguasa alam semesta. Sungguh suatu karunia dan kebanggaan luar biasa Mama bisa mencapai gelar tertinggi dalam kehidupan kampus.

Dengan usia yang tidak lagi muda, Mama mengajarkan kami semangat pantang menyerah dan terus belajar. Serasa mendapat tamparan keras kalau melihat semangat belajar dan menimba ilmuku yang sering padam.

Pada tanggal 12 September 2020, tepat sehari setelah ulang tahunnya, Mama secara resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar/Profesor di Universitas Udayana. Bangga dan haru bisa hadir dan menyaksikan secara langsung pengukuhan itu.

Kami semua bangga pada Mama. Guru besar pertama dan satu-satunya (paling tidak sampai saat ini) di keluarga kami. Vivant Professores!