Hari menjelang malam. Aku bersiap merapikan
meja kerja dan mengemas tasku. Sekejap kuintip kepadatan lalu lintas di jalan utama
kota Jakarta.
Terlihat kepadatan kendaraan berbaris rapi seolah
tanpa jarak dan tanpa putus. Hmm..syukur aku sudah naik kereta, begitu gumamku.
Berjalan menyusuri pedestrian jalan Sudirman
sebelum memasuki MRT dan LRT yang membawaku pulang. Lumayan sejuk hari ini
karena siang tadi hujan menyirami dan membasuh panasnya kota Jakarta. Aku
melihat jadwal keberangkatan dan masih sekitar 3 menit lagi sebelum keretaku tiba
di peron 2. Pintu terbuka dan aku melangkah masuk, mencari tempat yang nyaman
dan tidak terdesak oleh penumpang yang akan masuk di stasiun-stasiun
berikutnya.
Sekitar 48 menit perjalanan biasanya aku
gunakan untuk membaca atau belajar bahasa asing online. Iseng aja mengisi
waktu. “Next Station, Harjamukti”, begitu pengumuman di speaker LRT. Aku mulai
memasukkan earphone, kacamata dan handphone dan menyimpan rapi di dalam tas.
Melangkah menuju parkiran motor dan memacu
perlahan pulang ke rumah. Begitu motor terpakir, sesosok putri kecil sudah
menyambut di garasi dengan cerita dan senyuman terbaiknya. Itulah obat terbaik
yang bisa meredakan dan menghilangkan semua lelah dan penat.
Sambil melonggarkan pikiran, meja makan
adalah tempat terbaikku. Setelah berbagi cerita hari itu, istriku bercerita
kalau Gita bilang seneng dan bersyukur punya ayah yang tidak terlalu sibuk
bekerja dan masih punya banyak waktu untuk mereka. Mendengar kata-kata itu
membuat hariku semakin berbunga. Aku merasa itu pujian terbaik yang pernah aku
terima. Aku menjadi semakin yakin bahwa jalan yang aku pilih sudah benar. Jalan
untuk selalu ada untuk mereka, menikmati waktu bersama.