Senin, 30 Maret 2026

Obat Terbaik

Hari menjelang malam. Aku bersiap merapikan meja kerja dan mengemas tasku. Sekejap kuintip kepadatan lalu lintas di jalan utama kota Jakarta.

Terlihat kepadatan kendaraan berbaris rapi seolah tanpa jarak dan tanpa putus. Hmm..syukur aku sudah naik kereta, begitu gumamku.

Berjalan menyusuri pedestrian jalan Sudirman sebelum memasuki MRT dan LRT yang membawaku pulang. Lumayan sejuk hari ini karena siang tadi hujan menyirami dan membasuh panasnya kota Jakarta. Aku melihat jadwal keberangkatan dan masih sekitar 3 menit lagi sebelum keretaku tiba di peron 2. Pintu terbuka dan aku melangkah masuk, mencari tempat yang nyaman dan tidak terdesak oleh penumpang yang akan masuk di stasiun-stasiun berikutnya.

Sekitar 48 menit perjalanan biasanya aku gunakan untuk membaca atau belajar bahasa asing online. Iseng aja mengisi waktu. “Next Station, Harjamukti”, begitu pengumuman di speaker LRT. Aku mulai memasukkan earphone, kacamata dan handphone dan menyimpan rapi di dalam tas.

Melangkah menuju parkiran motor dan memacu perlahan pulang ke rumah. Begitu motor terpakir, sesosok putri kecil sudah menyambut di garasi dengan cerita dan senyuman terbaiknya. Itulah obat terbaik yang bisa meredakan dan menghilangkan semua lelah dan penat.

Sambil melonggarkan pikiran, meja makan adalah tempat terbaikku. Setelah berbagi cerita hari itu, istriku bercerita kalau Gita bilang seneng dan bersyukur punya ayah yang tidak terlalu sibuk bekerja dan masih punya banyak waktu untuk mereka. Mendengar kata-kata itu membuat hariku semakin berbunga. Aku merasa itu pujian terbaik yang pernah aku terima. Aku menjadi semakin yakin bahwa jalan yang aku pilih sudah benar. Jalan untuk selalu ada untuk mereka, menikmati waktu bersama.     

Tidak ada komentar: