Kamis, 19 Maret 2009

Saat Menjelang Persalinan

Tak terasa kandungan mu sudah memasuki minggu ke-38. Tak sabar rasanya menanti hari persalinan dan mendengar tangisan anak kita. Mulai dari perlengkapan lahiran sampai nanti pulang ke rumah sudah kamu siapkan secara perlahan tanpa bantuanku karena saat itu aku sedang di bali. kamu sungguh luar biasa.

Baju, perlengkapan bayi dan lahiran sudah siap di dalam tas, menanti untuk berangkat. Kerjaanku juga hanya mencari informasi tentang kehamilan dan persalinan di internet. Semakin aku membaca dan mencari tahu, semakin tidak sabar rasa hatiku.

Aku mulai membayangkan hawa dan suasana kamar persalinan di rumah sakit. Beberapa kali aku menonton video melahirkan di internet supaya aku semakin paham apa yang terjadi di kamar persalinan dan bantuan apa yang harus aku berikan padamu. Aku ingin kamu merasa nyaman dan aman dengan adanya aku disisimu.
Tidak ada perubahan berarti darimu sejak awal kehamilan sampai dengan saat ini. Saat mendekati persalinan. Cuma beberapa kali terlontar dari bibirmu kalau kamu mulai dihinggapi rasa khawatir, cemas dan takut.

Dari beberapa cerita orang dan tulisan yang aku baca, rasa itu wajar menghinggapi ibu yang akan melahirkan. Apalagi melahirkan anak pertama. Tapi aku yakin kamu pasti bisa melewatinya, karena aku yakin Tuhan pasti telah menyediakan jalan dan cara yang terbaik. Banyak wanita bisa, dan aku yakin kamu juga pasti bisa. Aku pasti akan ada disana, disisiku dengan segenap doa dan kemampuanku. Ade’ bantu ibu melahirkan dengan sehat, normal dan lancar ya.

Tak sabar segera mendengar tangisan anak kita dan melihat senyum cantik mengembang diwajahmu. I luv u so much.

Selasa, 03 Maret 2009

Selamat Jalan Papa


Ma, kenapa dada papa berhenti bergerak ya? Segera aku berlari keluar kamar perawatan untuk memanggil suster jaga walau mama sudah menekan bel darurat. Panik dan sedih bercampur aduk. 2 orang suster segera mengerahkan segenap kemampuannya untuk membantu papa. Namun kenyataan berkata lain. Tanggal 26 Februari 2009, Papa tiada. Tangis tak terbendung memecah kesunyian pagi.

Sejak sehari sebelumnya papa sudah sulit bernafas. Kondisinya semakin mengkhawatirkan. Tidak henti-hentinya doa kupanjatkan memohon yang terbaik untuknya. Malam itu, aku tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Setiap saat kuperhatikan infus dan oksigen yang menempel di tubuh papa.

Pagi hari, seorang dokter yang merawat papa datang berkunjung. Aku menanyakan kondisi papa dan apa tindakan yang akan dilakukan. Sebelum menjawab, dokter menghela nafas panjang. Aku tahu itu sebuah pertanyaan yang susah. Kita akan terus berusaha, kira-kira begitu arti dari helaan nafasnya.

Tak lama berselang, papa tiada. Mungkin itu jawaban dari doa-doa ku belakangan hari kemarin. Aku ikhlas papa pergi daripada melihat penderitaan dan penyakitnya. Sedih memang, tapi aku tahu itu yang terbaik buat papa.

Waktu semakin berlalu, meninggalkan semua cerita dan kenangan indah tentang papa. Senyuman dan canda tawanya kini sudah tiada lagi. Kadang aku masih sering merenung tentang apa yang telah kita lakukan bersama dimasa yang lalu. Biarkanlah itu hidup dalam hati.

Papa telah tiada, namun cita-cita, semangat dan nilai-nilai kehidupannya akan selalu menyertaiku. Aku telah berjanji kepada papa untuk meneruskan apa yang tertunda dengan segenap kemampuanku.

Selamat jalan papa, beristirahatlah dengan tenang dan damai. We love u...

NB: Terima kasih untuk semua yang telah membantu papa, dan mohon maaf atas semua kesalahan yang papa pernah lakukan.

Untuk istriku tercinta, aku minta maaf telah meninggalkanmu dan Ade’ seminggu lebih lamanya. Terima kasih telah memberikan aku waktu untuk melihat dan menjaga papa untuk terakhir kalinya.

Kamis, 12 Februari 2009

Valentine

Setiap hari selama seminggu belakangan ini aku selalu mendengar kata-kata ”Valentine” di radio kesayanganku. Sepertinya setiap insan di dunia yang memuja cinta, menantikan tibanya hari ini. Walaupun bukan budaya Indonesia, tapi sebagian besar orang ikut merayakan dan selalu mendambakan.

Hampir di setiap pusat perbelanjaan aku melihat hiasan yang didominasi warna merah muda, cerah menghiasi setiap sudut. Sepertinya cinta telah merasuk segenap umat manusia dan membuat mereka lebih bersemangat. Apakah itu hanya imajinasiku? Entahlah. Yang pasti, itu adalah harapan dan impianku.

Aku termasuk orang menyukai semangat valentine itu walau aku bukan pemuja hari valentine. Perasaan damai penuh cinta menyelimuti dunia., itulah yang aku rasakan. Kenapa aku tidak memujanya?

Aku memiliki seorang istri yang sangat sayang padaku. Setiap hari adalah hari yang istimewa buatku. Dia selalu ada untuk aku. Saat aku berada pada ”persimpangan jalan” yang ramai, aku bingung. Aku berusaha mendengar kata hatiku, dan yang aku bisa dengar hanya suaranya. Begitu banyak orang lalu lalang di dunia, tapi aku hanya bisa mendengar suaranya.

Dia telah memberikan tangannya untuk aku. Selalu menolong aku saat aku jatuh dan mengingatku saat kakiku sudah tidak lagi menginjak bumi. Senyumnya yang cerah telah menjadi bintang penunjuk jalanku. Aku semakin tahu kemana aku harus melangkah.

Itulah sebabnya aku bukan pemuja hari valentine. Karena setiap hari, setiap detiknya aku mengalami hari kasih sayang. Hari yang penuh cinta kasih dari istriku tercinta. Namun aku harap, semangat hari kasih sayang tidak akan luntur di hati setiap insan, walau hari ini telah lewat.

Mengutip sebuah pepatah bahwa ”cintailah selama kamu hidup dan hiduplah selama kamu masih bisa mencintai”, maka dunia pasti akan semakin indah.

Minggu, 01 Februari 2009

Ambilkan Bulan Bu

Malam semakin larut. Dahan - dahan melambai tertiup angin malam. Lelah serasa menghampiri setelah lebih dari 3 jam aku duduk membaca buku. Besok aku akan menempuh ujian semester. Aku beranjak dari ruang kamarku dan berjalan menuju ruang belajar di lantai gedung asramaku, hanya ingin sekedar melepas lelahku.

Teman-teman ternyata sedang bersenandung diiringi petikan gitar klasik. Mereka adalah teman-teman satu asrama yang sudah meyelesaikan ujian semesternya. Sungguh nikmat rasanya lepas dari beban itu.

Aku minta untuk dimainkan sebuah lagu yang dapat meredakan tegangnya pikiranku. Lagu masa kecilku yaitu ”Ambilkan Bulan Bu”. Entah kenapa lagu itu selalu mendapat tempat yang indah di hatiku. Apalagi malam yang dingin itu, bulan bersinar dengan cerahnya.

Seolah-olah lupa akan umurku, aku mulai menyanyikan lagu itu dengan sepenuh hati. Aku membayangkan bahwa aku bisa menggapai Bulan dan ku bawa pulang. Khan ku dekap tak kubiarkan dia pergi.

Sampai saat ini, aku masih sangat mengagumi lagu itu. Bahkan sampai aku belajar main gitar. Bulan, begitu indahnya. Dia menyinari setiap insan. Sekarang, aku tidak perlu lagi meminta Ibu untuk mengambilkan bulan untuku. Karena dia sudah ada dipelukanku. Bulan yang selalu bersinar dan menemani setiap malam-malamku.

Minggu, 18 Januari 2009

Banjir Di Musim Hujan

Hujan tidak turun pagi ini. Mungkin hujan telah menumpahkan semuanya malam tadi. Dengan derasnya, hujan menghantam atap yang dilapisi polycarobonate begitu riuhnya membuat aku terjaga dalam tidurku.

Sudah dari minggu kemarin aku tidak mengantar dia ke kantor. Aku takut dengan ketinggian air yang menggenangi jalanan walau tidak didahului dengan turunnya hujan. Namun, karena hujan semalam, aku semakin khawatir dengan kemungkinan naiknya air.

Apa yang aku khawatirkan benar-benar terjadi. Kawasan Kelapa Gading lumpuh. Air telah merendam apapun yang menghalanginya. Kendaraan tidak berhasil membelah tingginya air. Belum lagi diperparah dengan terbakarnya salah satu tangki pada depo Pertamina. Banjir dan macet menjadi satu.

Aku segera mengangkat telponku. Kekhawatiranku memuncak membaca keadaan kawasan itu. Begitu suaranya terdengar dari kejauhan, aku tahu dia baik-baik saja. Aku menjadi lega.

Menit berlalu, sudah 45 menit tidak ada kabar darinya. Padahal waktu sudah menunjukan pukul 09.00, 30 menit setelah waktu mulai bekerja. Kemana dia? Apakah dia baik-baik saja?

Segera aku menelponnya. Masih terjebak banjir katanya. Namun dia sudah naik ke mobil elf jemputan kantor. Walau macet, tapi relatif aman dan akupun tenang.

Melihat perjuanganya menuju kantor, membuat aku kagum. Mungkin terlihat nekat, namun dia melakukan apa yang dia percaya, pekerjaan yang dia senangi. Walau terlihat sibuk, tidak ada raut kelelahan pada wajahnya. Senyum ceria selalu mengembang cerah.

Semoga semangat dan keceriaan yang tiada henti itu bisa menulari sifat anak kami yang segera melihat wajah kami berseri di bumi.

Senin, 05 Januari 2009

"Libur" Akhir Tahun

Liburan tahun baru kemarin tidak seperti liburan tahun baru pada tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada liburan yang ”wah” atau selebrasi yang berlebihan. Sebagian besar libur tahun ini aku habiskan di tanah kelahiranku, Bali.

Mungkin kurang tepat aku kalau sebut liburan di kampung halaman, karena tujuanku pulang adalah untuk menemani papaku yang terbaring lemas di rumah. Sudah 2 bulan ini beliau mengidap sakit.

Begitu sampai di rumah, aku langsung menjenguknya di dalam kamar. Aku disambut oleh batuknya yang bandel. Aku tahu papa pasti ingin menyambut kami dengan tawanya yang renyah seperti biasa. Tapi untuk saat itu, hal itu tidak muncul. Namun dari sorot matanya, aku tahu papa bahagia melihat kami pulang.

Setiap hari, setiap saat aku tidak ingin jauh dari papa ku. Aku tidak ingin waktu libur kerjaku di Bali tersia-siakan tanpa melakukan hal yang bisa membantu dan menemaninya.

Pagi itu, seperti biasa aku mengunjungi kamarnya. Aku mulai memijat kakinya dan mencoba menggerakkannya. Masih berat kata papa. Kemudian papa memanggil istriku. Papa lapar. Diapun segera bergegas ke dapur mengambil sepiring nasi dan lauknya kemudian dengan sabar menyuapi papa makanan. Dapat kulihat dengan sabar dia melayani papa. Mulai dari memijat, mensuapi makanan, membuatkan minum, dll semua dia lakukan dengan ceria.

Kuperhatikan papa makan. Walau tidak berbicara, tapi aku tahu papa bahagia. Bahagia karena papa tahu bahwa kami menyayanginya dengan sepenuh hati. Aku juga semakin yakin bahwa kelak anak-anakku akan berada pada tangan yang tepat. Tangan yang penuh kelembutan dan kasih sayang setiap harinya dan disetiap hembusan nafasnya.

NB: Cepat sembuh papa..
Terima kasih untuk Mama, Dedi dan Lia yang senantiasa menemani dan melayani papa dengan sabar dan penuh kasih sayang setiap harinya.

Minggu, 04 Januari 2009

Tart Ulang Tahunku

Malam baru menunjukkan pukul 22.00, dan film laga yang sedang aku tonton masih seru-serunya. Dengan susah payah aku berusaha menahan kantuk yang menyerang namun tak kunjung berhasil. Aku pun tertidur dengan suksesnya.

Masih kudengar sayup-sayup suara televisi dengan kiblatan cahayanya. Mata masih bisa mengintip dari celah kelopak mata yang mulai redup. Setengah sadar aku mencoba meraih remote tv yang berada diantara tumpukan bantal dan selimut. Klik..maka stand by mode on.

Malam itu adalah tepat tanggal 1 januari, hari pertama di tahun baru 2009. Senang rasanya merayakan tahun baru karena bagiku, tahun baru berarti harapan baru dan semangat baru. Namun, tetap saja kebiasaanku tidak baru yaitu tidak kuat begadang.

Saat nyeyak tertidur, sebuah tangan menggoyang-goyang tubuhku lembut. Suaranya memanggil-manggil namaku. Mimpi atau bukan ya? Karena aku baru tidur 2 jam lamanya.

Makin lama, tangan itu makin terasa menyentuh bahuku dan suaranya semakin jelas kudengar. Secercah cahaya lilin menghangatkan kamarku. ”Happy Birthday sayang...” begitu teriaknya. Sebuah ”tart” hasil karyanya yang terbuat dari setanggup roti tawar, berisi meses coklat dan baluran keju parut sudah terhampar di depanku. Sebuah kue ulang tahun yang luar biasa yang dibuat dengan keiklasan dan dibumbui dengan kasih sayang.

Setelah ku tiup lilinya, maka kue ulang tahun itu aku potong dan ku berikan potongan pertama dengan orang yang sangat spesial di hatiku. Nikmat luar biasa.
Terima kasih sayang, itu kue ulang tahun terenak dan sempurna buat ulang tahunku. I love u..