Senin, 06 April 2009

My Girl


“Aji, siap-siap ke dokter ya”. Sedikit terkejut, takut campur bahagia ketika mendengar istriku mengucapkan kalimat itu. Tanpa pikir panjang, aku segera memasukkan tas bayi dan tasnya yang sudah aku siapkan sejak 2 minggu lalu. Sembari menunggu dia selesai mandi, aku mulai berfikir pelan-pelan apa lagi yang harus aku persiapkan lagi. Aku berusaha tenang.

Pukul 08.10 Wib aku tiba di RS Bunda Menteng. Karena sudah pernah ikut kelas kehamilan disana, jadi aku tahu rute yang harus aku tempuh. Setelah mendaftar, istriku masuk ke ruang persalinan. CTG dilakukan dan test dalam. Ternyata sudah bukaan 1. Senang dan bahagia menjadi satu. ”Kemungkinan 10 – 12 jam kedepan anak ibu sudah bisa lahir” begitu kata dokter.

Waktu terus berlalu. Istriku tak kunjung mendapat kontraksi yang kuat dan mulas. Dia dengan semangat dan cerita terus menikmati tibanya saat persalinan. Hasil CTG kedua juga menunjukkan kontraksi yang lemah ditambah denyut jantung bayi yang ”silent”.

Pukul 18.00 Wib, 10 jam sudah berlalu. Dokter melakukan kunjungan dan konsultasi. Namun ternyata, bukaan tidak bertambah sedikitpun. Mungkin oleh karena itu istriku tidak merasakan mulas.

Aku diberi 2 pilihan, mau menunggu atau operasi. Tidak ada pilihan induksi karena jantung bayi sempat ”silent”. Kami diberi waktu 3 jam untuk berfikir untuk menghindari hal-hal yang tidak kami inginkan sambil menunggu dokter menyelesaikan praktiknya.

Aku meminta untuk melakukan CTG terakhir kalinya karena istriku ingin lahir normal. Namun, kenyataan berkata lain. Detak jantung bayi gawat. Dia stress. Dokter tidak memberikan kami lagi pilihan. Harus operasi!!!

Setelah berjuang sekian lama untuk lahir, ternyata dia gagal. Dia terlilit tali pusar di leher. Kalau terlambat, akan membahayakan jiwa bayi.

Maka, pukul 22.38 Wib lahirnya putri pertama kami. Lega, senang dan sangat bahagia begitu mendengar tangisannya memecah keheningan malam. Dengan berat 3,1 Kg dan panjang 47 Cm, I.A. Nara Pramodawardani Dauh, begitu kami memberinya nama akan mengisi hari-hari bahagia kami kedepannya. Ratu yang bahagia dan membahagiakan orang lain sudah melihat dunia barunya.

Selamat datang di dunia baru Nara. Nara adalah sumber kebahagian dan kebanggaan baru buat Aji dan Ibu. We Love U So Much...


Lilypie 1st Birthday Ticker

Kamis, 02 April 2009

Surat Buat Ade'

Hari ini tepat ade’ berusia 39 minggu. Usia ade’ dalam kandungan ibu udah cukup untuk lahir kedunia. Ibu pun udah mengambil jatah cuti melahirkannya sejak tanggal 27 Maret kemaren.

Sejak hari itu, hari-hari ibu diisi dengan berbagai kegiatan. Mulai dari belanja kebutuhan ade’, kebutuhan rumah tangga, senam dan beragam aktivitas lainnya. Aji sendiri masih menjalankan kegiatan kantor seperti biasanya.

Sedih memang meninggalkan ibu sendirian untuk menunggu ade’ lahir sedangkan aji sibuk dengan kegiatan kantor. Tapi aji melakukan ini untuk ade’ dan ibu juga. Aji sayang ma Ibu dan Ade’ dan aji mau kalian selalu bahagia, tercukupi apa yang kalian butuhkan.

Rumah ade’ di bukit golf juga sudah siap menyambut ade’. Ibu sudah membereskan sedemikian rupa sehingga nyaman untuk ade’ tumbuh. Mulai dari tempat tidur, lemari, pakaian dan serba-serbinya. Ibu ade’ emang wanita yang luar biasa.

Sabtu besok aji dan ibu sudah punya jadwal untuk ade’. Kita akan melakukan CTG. Aji lupa sih apa kepanjangannya. Tapi fungsinya untuk melihat kandungan secara keseluruhan termasuk daya kontraksi.

Ade’ sayang, tetep berjuang dan semangat ya. Ade’ harus bantu ibu ya. Semoga ade’ bisa lahir sehat dan lancar. Aji yakin ade’ pasti bisa. Ade’ tau? Aji dan ibu udah ga sabar untuk melihat ade’ dan mendengar tangisan ade’.
Uhmm....begitu nanti ade’ bisa memanggil kami dengan sebutan “Aji” dan “Ibu”, itu adalah panggilan terindah di dunia. Aji dan Ibu sayang banget ma Ade’.

Minggu, 22 Maret 2009

Sabtu Ceria

Hari sabtu kemarin aku kembali ke RS Bunda untuk check up mingguan kandungan istriku. Aku sudah mendaftarkannya sejak seminggu lalu dengan mendapat no urut pendaftaran 1. Namun tetap saja itu bukan jaminan dia bakal mendapat giliran No. 1 karena nomor antrian dihitung berdasarkan kedatangan.

Aku tidak ingin dia menanti lama di RS Bunda. Untuk tetap mendapat no antrian kecil, maka aku tiba di RS Bunda pukul 16.30 walau dokter praktek jam 18.30 dengan harapan aku mendapat no antrian 1. Benar saja, setiba disana aku mendapat nomor yang aku harapkan namun biasanya akan di confirm 30 menit sebelum jam praktek dokter.

Namun hal yang beda terjadi. Petugas memberi aku print out nomor antrianku. Syukur dan senang aku menerimanya sehingga aku bisa segera pulang untuk menjemputnya. Ade’ dapet no urut kecil, begitu gumam ku.

Tiba kembali di RS pukul 18.00. Suster pada sibuk membereskan ruangan dokter karena dokter mau syuting. Syuting apa ya? ” Nyonya Mega”, suster memanggil. Aku segera masuk ke ruang dokter. Setelah diskusi kecil, istriku di USG. Aku melihat pergerakan anakku begitu lucunya, membuat aku terkagum-kagum.

Tiba – tiba dokter menanyakan apakah boleh istriku di ambil gambarnya oleh DAAI TV? Dia mengiyakan. Segera masuk serang wanita dari stasiun TV itu untuk ambil gambar. Layar monitor pun di ”shoot” sehingga ade’ bisa kelihatan di TV.

Ternyata hasil syuting itu akan di tayangkan di Taiwan untuk informasi kemanusiaan. Sungguh senang aku mendengarnya. Ade’, walau masih di kandungan sudah memberikan sumbangan untuk ilmu pengetahuan dunia.

Semoga nanti ade’ bisa terus berguna bagi keluarga dan dunia setelah ade’ menginjakkan kaki di bumi, dan aji yakin ade’ pasti bisa.

Kamis, 19 Maret 2009

Saat Menjelang Persalinan

Tak terasa kandungan mu sudah memasuki minggu ke-38. Tak sabar rasanya menanti hari persalinan dan mendengar tangisan anak kita. Mulai dari perlengkapan lahiran sampai nanti pulang ke rumah sudah kamu siapkan secara perlahan tanpa bantuanku karena saat itu aku sedang di bali. kamu sungguh luar biasa.

Baju, perlengkapan bayi dan lahiran sudah siap di dalam tas, menanti untuk berangkat. Kerjaanku juga hanya mencari informasi tentang kehamilan dan persalinan di internet. Semakin aku membaca dan mencari tahu, semakin tidak sabar rasa hatiku.

Aku mulai membayangkan hawa dan suasana kamar persalinan di rumah sakit. Beberapa kali aku menonton video melahirkan di internet supaya aku semakin paham apa yang terjadi di kamar persalinan dan bantuan apa yang harus aku berikan padamu. Aku ingin kamu merasa nyaman dan aman dengan adanya aku disisimu.
Tidak ada perubahan berarti darimu sejak awal kehamilan sampai dengan saat ini. Saat mendekati persalinan. Cuma beberapa kali terlontar dari bibirmu kalau kamu mulai dihinggapi rasa khawatir, cemas dan takut.

Dari beberapa cerita orang dan tulisan yang aku baca, rasa itu wajar menghinggapi ibu yang akan melahirkan. Apalagi melahirkan anak pertama. Tapi aku yakin kamu pasti bisa melewatinya, karena aku yakin Tuhan pasti telah menyediakan jalan dan cara yang terbaik. Banyak wanita bisa, dan aku yakin kamu juga pasti bisa. Aku pasti akan ada disana, disisiku dengan segenap doa dan kemampuanku. Ade’ bantu ibu melahirkan dengan sehat, normal dan lancar ya.

Tak sabar segera mendengar tangisan anak kita dan melihat senyum cantik mengembang diwajahmu. I luv u so much.

Selasa, 03 Maret 2009

Selamat Jalan Papa


Ma, kenapa dada papa berhenti bergerak ya? Segera aku berlari keluar kamar perawatan untuk memanggil suster jaga walau mama sudah menekan bel darurat. Panik dan sedih bercampur aduk. 2 orang suster segera mengerahkan segenap kemampuannya untuk membantu papa. Namun kenyataan berkata lain. Tanggal 26 Februari 2009, Papa tiada. Tangis tak terbendung memecah kesunyian pagi.

Sejak sehari sebelumnya papa sudah sulit bernafas. Kondisinya semakin mengkhawatirkan. Tidak henti-hentinya doa kupanjatkan memohon yang terbaik untuknya. Malam itu, aku tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Setiap saat kuperhatikan infus dan oksigen yang menempel di tubuh papa.

Pagi hari, seorang dokter yang merawat papa datang berkunjung. Aku menanyakan kondisi papa dan apa tindakan yang akan dilakukan. Sebelum menjawab, dokter menghela nafas panjang. Aku tahu itu sebuah pertanyaan yang susah. Kita akan terus berusaha, kira-kira begitu arti dari helaan nafasnya.

Tak lama berselang, papa tiada. Mungkin itu jawaban dari doa-doa ku belakangan hari kemarin. Aku ikhlas papa pergi daripada melihat penderitaan dan penyakitnya. Sedih memang, tapi aku tahu itu yang terbaik buat papa.

Waktu semakin berlalu, meninggalkan semua cerita dan kenangan indah tentang papa. Senyuman dan canda tawanya kini sudah tiada lagi. Kadang aku masih sering merenung tentang apa yang telah kita lakukan bersama dimasa yang lalu. Biarkanlah itu hidup dalam hati.

Papa telah tiada, namun cita-cita, semangat dan nilai-nilai kehidupannya akan selalu menyertaiku. Aku telah berjanji kepada papa untuk meneruskan apa yang tertunda dengan segenap kemampuanku.

Selamat jalan papa, beristirahatlah dengan tenang dan damai. We love u...

NB: Terima kasih untuk semua yang telah membantu papa, dan mohon maaf atas semua kesalahan yang papa pernah lakukan.

Untuk istriku tercinta, aku minta maaf telah meninggalkanmu dan Ade’ seminggu lebih lamanya. Terima kasih telah memberikan aku waktu untuk melihat dan menjaga papa untuk terakhir kalinya.

Kamis, 12 Februari 2009

Valentine

Setiap hari selama seminggu belakangan ini aku selalu mendengar kata-kata ”Valentine” di radio kesayanganku. Sepertinya setiap insan di dunia yang memuja cinta, menantikan tibanya hari ini. Walaupun bukan budaya Indonesia, tapi sebagian besar orang ikut merayakan dan selalu mendambakan.

Hampir di setiap pusat perbelanjaan aku melihat hiasan yang didominasi warna merah muda, cerah menghiasi setiap sudut. Sepertinya cinta telah merasuk segenap umat manusia dan membuat mereka lebih bersemangat. Apakah itu hanya imajinasiku? Entahlah. Yang pasti, itu adalah harapan dan impianku.

Aku termasuk orang menyukai semangat valentine itu walau aku bukan pemuja hari valentine. Perasaan damai penuh cinta menyelimuti dunia., itulah yang aku rasakan. Kenapa aku tidak memujanya?

Aku memiliki seorang istri yang sangat sayang padaku. Setiap hari adalah hari yang istimewa buatku. Dia selalu ada untuk aku. Saat aku berada pada ”persimpangan jalan” yang ramai, aku bingung. Aku berusaha mendengar kata hatiku, dan yang aku bisa dengar hanya suaranya. Begitu banyak orang lalu lalang di dunia, tapi aku hanya bisa mendengar suaranya.

Dia telah memberikan tangannya untuk aku. Selalu menolong aku saat aku jatuh dan mengingatku saat kakiku sudah tidak lagi menginjak bumi. Senyumnya yang cerah telah menjadi bintang penunjuk jalanku. Aku semakin tahu kemana aku harus melangkah.

Itulah sebabnya aku bukan pemuja hari valentine. Karena setiap hari, setiap detiknya aku mengalami hari kasih sayang. Hari yang penuh cinta kasih dari istriku tercinta. Namun aku harap, semangat hari kasih sayang tidak akan luntur di hati setiap insan, walau hari ini telah lewat.

Mengutip sebuah pepatah bahwa ”cintailah selama kamu hidup dan hiduplah selama kamu masih bisa mencintai”, maka dunia pasti akan semakin indah.

Minggu, 01 Februari 2009

Ambilkan Bulan Bu

Malam semakin larut. Dahan - dahan melambai tertiup angin malam. Lelah serasa menghampiri setelah lebih dari 3 jam aku duduk membaca buku. Besok aku akan menempuh ujian semester. Aku beranjak dari ruang kamarku dan berjalan menuju ruang belajar di lantai gedung asramaku, hanya ingin sekedar melepas lelahku.

Teman-teman ternyata sedang bersenandung diiringi petikan gitar klasik. Mereka adalah teman-teman satu asrama yang sudah meyelesaikan ujian semesternya. Sungguh nikmat rasanya lepas dari beban itu.

Aku minta untuk dimainkan sebuah lagu yang dapat meredakan tegangnya pikiranku. Lagu masa kecilku yaitu ”Ambilkan Bulan Bu”. Entah kenapa lagu itu selalu mendapat tempat yang indah di hatiku. Apalagi malam yang dingin itu, bulan bersinar dengan cerahnya.

Seolah-olah lupa akan umurku, aku mulai menyanyikan lagu itu dengan sepenuh hati. Aku membayangkan bahwa aku bisa menggapai Bulan dan ku bawa pulang. Khan ku dekap tak kubiarkan dia pergi.

Sampai saat ini, aku masih sangat mengagumi lagu itu. Bahkan sampai aku belajar main gitar. Bulan, begitu indahnya. Dia menyinari setiap insan. Sekarang, aku tidak perlu lagi meminta Ibu untuk mengambilkan bulan untuku. Karena dia sudah ada dipelukanku. Bulan yang selalu bersinar dan menemani setiap malam-malamku.