Minggu, 08 Agustus 2010

Get Well Soon, My Dear

Aku berniat untuk meneleponnya sesaat setelah aku menyelesaikan santap siangku di hari kamis kemarin. Namun ternyata sudah ada satu panggilan tak terjawab. Itu telepon dari dirinya yang tak aku dengar karena ramainya tempat makan siangku.

Aku segera menelepon dia kembali hanya untuk menanyakan apakah dia sudah makan atau belum dan kabar-kabar lain darinya yang selalu aku nantikan. Namun jawaban yang tak biasa aku dengar. Dia sedang dalam perjalanan pulang karena demam dan meriang. Syukur perjalanan lancar dan dia tiba di rumah dengan cepat.

Hari sabtu dan minggu kemarin dia hanya bisa berbaring lemas. Setelah aku antar ke dokter, hasilnya nya adalah dia kena gejala typus, penyakit yang kurang dari setahun lalu pernah menyerangnya. Pasti dia terlalu lelah.

Hari ini dia kembali tidak masuk kantor. Aku harap dia bisa segara sembuh dengan beristirahat di rumah ditemani dengan Nara yang masih belum bisa mengerti kalau ibunya sakit sehingga selalu berusaha mengganggu tidurnya. Namanya juga Nara Bolo-Bolo. Selalu ceria dan suka bercanda.
Semoga cepet sembuh ya Ibuku. Aji yakin dengan ditemani dengan senyum dan gayanya Nara ibu pasti dapet kekuatan untuk segera pulih.

Selasa, 06 Juli 2010

Dua Tahun Berlalu

”Mas, kalau saya mau buat undangan seperti contoh ini brapa ya?” Begitu kira-kira kalimat yang terucap 2 tahun silam kala aku dan dia sedang sibuk mempersiapkan kartu undangan untuk pernikahan kami. Setelah sedikit menawar, akhirnya kami menemukan kata sepakat di harga Rp4,500 per buahnya. Harga yang wajar menurutku.

Aku disini, di Jakarta, aku terpisah jarak dan waktu dengan tempat dimana aku akan menikahi wanita tercantik dan terbaik di dunia, yang akan menjadi pendamping hidupku, membuat koordinasi sedikit rumit. Tidak sempurna rasanya kalau hanya bicara melalui telepon dan tidak bertatap muka langsung.

Kami pun berusaha mengurus sendiri apa yang bisa dilakukan di Jakarta seperti memesan undangan, souvenir, pakaian dan pernak-pernik lainnya. Bahkan beberapa detail lainnya berangkat ke Bali bersamaan dengan kepulangan kami yaitu 2 hari sebelum acara pernikahan.

Tanggal 7 Juli 2008 adalah hari istimewa dalam hidupku. Hari dimana aku mengucapkan janji untuk setia pada seorang wanita yang kini menjadi istriku, menjadi pegangan hidupku. Dua tahun sudah berlalu. Hidup kami pun kini sudah semakin diwarnai dengan coletahan putri kecil yang membuat kebahagiaan dalam rumah mungil kami tiada habisnya.

Dua tahun bukannya suatu prestasi dalam menjalani hidup berumah tangga. Namun waktu yang telah aku lewati ini akan menjadi pondasi kuat untuk pijakan dan langkah berikutnya untuk mencapai cita-cita yaitu bersama selamanya sampai waktu yang memisahkan.

Selamat hari pernikahan kita, istriku tercinta. Moga kedepannya kita bisa menjadi lebih baik lagi dan semakin baik setiap harinya dalam mengarungi hidup yang sangat singkat ini. Apalagi sekarang ada penumpang kecil nan cantik dan lucu yang harus kita antar sampai di tempat tujuan sesuai dengan cita-cita kita bersama.
Ulang tahun pernikahan berarti umur cinta kita sudah bertambah satu tahun dan akan mengakar semakin kuat. I love u so much.

Minggu, 13 Juni 2010

Cinta Tak Selalu Berwujud Bunga

Aku bukanlah orang yang pintar menulis puisi indah. Bukan juga seorang penulis cerita cinta. Namun entah mengapa ide itu mengalir begitu saja, tertuang dalam kertas putih, sejak aku menemukan dirimu. Awal-awal aku bersamamu, begitu banyak cerita dan puisi yang mampu aku hasilkan untuk aku serahkan kepadamu. Itu adalah salah satu ekspresi rasa sayang dan cintaku padamu.

Banyak orang bilang bahwa keromantisan dan kemesraan itu hanya awal saja. Semua akan berubah bahkan hilang begitu saja setelah sekian lama bersama. Sedari awal aku sangat tidak setuju dengan pendapat itu. Aku tetap yakin bahwa ide dan romantisme ku akan kekal sepanjang jaman.

Memang, belakangan ini aku tidak pernah lagi mengirim atau menulis sebuah puisi atau cerita cinta yang bisa kupersembahkan. Namun apakah itu berarti aku sudah tidak sayang? tidak lagi cinta?

Jawabannya adalah tidak. Rasa sayang dan cintaku tidak pernah berkurang atau hilang. Dia tumbuh subur dalam hatiku dan semakin berkembang setiap harinya. Bahkan rasa itu bukan hanya lagi sekedar cinta dan sayang namun disertai tanggung jawab untuk menjaga dan membahagiakan keluarga yang sangat aku cintai. Aku bersyukur telah dikaruniai sebuah keluarga kecil yang sangat lucu dan selalu ceria. Keluarga yang penuh keharmonisan dan canda tawa.

Mungkin memang ekspresi itu tidak lagi dalam wujud puisi atau cerita cinta. Mungkin rasa itu tidak lagi aku wujudkan dengan sebuah benda yang sesuatu yang bisa dilihat. Namun, rasa itu tidak pernah luntur atau hilang dari hatiku.
Cinta dan sayang tidak selalu dalam wujud bunga

Minggu, 06 Juni 2010

Dia Adalah Istriku

Alarm yang aku set di hp ku meraung dengan kencangnya. Saatnya aku bangun. Dengan berat hati dan mata aku melangkah keluar kamar dan melangkah menuju kamar mandi dan mengguyur badan dengan air. Mata langsung terbuka dengan lebar begitu kepala tersiram dinginnya air.

Kembali aku melangkah masuk ke kamar untuk bersiap. Seperti biasa masih kulihat dia tidur dengan lelapnya. Disampingnya masih terbaring malaikat kecilku yang tidur dengan nyaman sambil memeluk lengan ibunya. Ada rasa tidak tega untuk membangunkannya. Tapi dia harus berangkat ke kantor.

Dengan langkah yang berat diapun meninggalkan kasur empuknya. Dingin Ji, begitu katanya setelah selesai mandi. Aku tertawa geli melihat tingkahnya yang kedinginan.

Semua sudah siap akupun siap berangkat ke kantor. Semua perlengkapanku sudah masuk ke tas ranselku. Iapun menyiapkan perlengkapan kantornya. Namun bukan hanya itu yang dia siapkan. Tas kecil berwarna biru juga harus selalu dia siapkan. Itulah tas yang tidak ada seni-seninya yang dia selalu bawa kemanapun dia pergi. Itulah tas ASI yang bisa membuat Nara tumbuh sehat dan kuat.

Aku benar-benar terenyuh melihatnya. Saat dimana orang-orang penuh gaya dengan penampilan pergi ke kantor dengan tas kerennya, dia masih setia menggendong tas ASI yang seperti aku bilang diatas tidak ada seni-seninya, sudah setahun ini menemaninya. Tak peduli acara apapun, tas itu selalu setia menggantung di bahu kecilnya.

Dia pun bertekad akan melakukan itu paling tidak sampai Nara berusia 2 tahun. Hmm.. masih 10 bulan lagi ya. Tapi aku yakin dia pasti bisa melakukannya. Dia adalah wanita terkuat dan tahan banting yang pernah aku lihat. Dia yang selalu berjuang dan melakukan apa saja untuk kebaikan Nara. Memberikan gizi terbaik untuk perkembangan Nara kedepan. Dia adalah wanita terbaik dalam hidupku. Kamu tau dia siapa? Iya, dia adalah Istriku.

Selasa, 18 Mei 2010

Waktu Yang Berkualitas

Ini lah hari yang aku tunggu. Hari dimana aku bisa pulang lebih awal di akhir pekan dan segera menikmati libur panjang 2 minggu lamanya. Sudah terbayang nikmatnya bangun lebih siang dari biasanya dan melihat senyum jahil anakku tercinta.

Setiap hari kerja, Nara pasti bangun pagi. Bahkan dia bangun lebih cepat dari istriku. Dengan mata yang masih sedikit terpejam, dia mulai mengumbar senyumnya yang lucu. Silau, katanya sambil memicingkan kedua matanya.

Sambil menunggu istriku bersiap, aku masih memiliki cukup waktu untuk mengajaknya sekedar menikmati udara pagi di depan rumah sambil melihat indahnya bintang pagi bersinar. Sungguh suatu kegiatan pagi yang indah dan sangat menyenangkan. Sambil berjalan-jalan kecil, Nara memulai tingkahnya yang lucu, berjalan sambil mengayun-ayunkan tangannya seperti orang senam.

Waktunya makan pagi. Sedang asyik menonton berita, aku harus di “kalahkan” oleh lagu anak-anak atau teletubbies peneman aktivitas makannya. Tanpa aku sadari aku hapal dengan lagu-lagu kesayangan Nara. Kebiasaan itu juga berlangsung pada saat makan siang dan malam.

Banyak kejadian-kejadian lucu yang Nara lakukan selama liburanku kemarin. Perkembangan Nara berjalan dengan normal dan sempurna. Ceria tertawa bersama merupakan waktu yang sangat berkualitas yang aku jalankan bersamanya. Aku merasa ingin selalu bermain bersama, menemani dia tumbuh setiap saatnya. Selama liburan itu aku mengkoleksi foto-foto hasil kegiatan kami berdua.

Waktu tak terasa begitu cepat berlalu. Aku harus memulai kegiatan kantor ku dengan semangat dan harapan baru di tempat yang baru juga. Namun aku sangat bersyukur bisa memiliki kesempatan dan waktu untuk bisa bermain dan menikmati hari bersama Naraku tercinta. Suatu yang sangat berharga dalam hidupku.

Minggu, 16 Mei 2010

Disini Aku Berdiri

Akhirnya aku harus mengucapkan kata pisah terhadap sebuah kantor yang telah menjadi tepatku bernaung selama 5 tahun lamanya. Perpisahan tidak pernah terpikirkan pada saat aku bergabung disana. Kata-kata sudah terucap dan hanya kenangan indah yang tersisa bersama kawan-kawanku disana.

Aku memulai kehidupanku disana di tempat dimana kerjaanku melakukan analisa tentang prosedur dan kepatutan transaksi yang dijalankan oleh kawan-kawan di divisi lain. Setahun aku jalani dengan banyak belajar memahami bagaimana industri ini bekerja dan bagaimana bisnis dijalankan.

Suatu saat kabar yang mengejutkan dan menggembirakan datang. Aku akan di pindah ke unit bisnis pasar modal. Semangat dan sangat bahagia aku rasakan saat itu. Aku mulai merasa bahwa disinilah duniaku. Dunia yang dinamis dan penuh tantangan. Tiga tahun pertama di tempat itu aku jalani dengan penuh semangat dan percaya diri. Euforia menyelimutiku dalam bekerja.

Namun dunia ini tidak selalu menjanjikan segala yang indah. Pasar modal jatuh terseret krisis global. Dunia serasa suram dan masa depan tidak jelas. Satu tahun lamanya aku terombang ambing dalam ketidakjelasan. Namun untuk diriku pribadi, aku harus mengambil keputusan.

Syukur aku di dampingi oleh istri yang luar biasa bijaknya. Dalam suasa kalut dan tidak jelas seperti itu, kadang mood dan emosiku tidak stabil. Aku lebih mudah terasa lelah dan penat. Dia selalu ada disampingku memberikanku masukan dan dukungan. Suaranya seperti menyiram api yang sedang membakar dada dan kepalaku.

Aku telah mengambil keputusan. Aku harus mencari tempat dimana aku bisa lebih maju lagi dan mengeluarkan segenap kemampuan yang aku punya. Aku butuh berkembang. Ternyata proses ke arah sana tidaknya secepat yang aku bayangkan. Timbul lagi rasa khawatir dalam diriku. Lagi-lagi kata-katanya bisa meredam khawatirku.

Terima kasih untuk segala waktu dan kesempatan yang telah di berikan kepadaku selama 5 tahun terakhir ini. Tentu aku akan terus membutuhkan dukunganmu sampai kapanpun. Sekarang disini aku berdiri dan disini aku akan bekarya sesuai dengan kecintaanku pada profesi ini.

Terima kasih sayang atas kesabaranmu dan kebijaksanaanmu dalam mendukungku saat melalui masa-masa sulit dan suram itu. Without you, i am nothing.

Selasa, 06 April 2010

Dua Makna Penting


Sebuah pagi yang cerah menyapaku hari itu. 4 April 2010 adalah salah satu hari paling istimewa dalam perjalanan hidupku. Hari itu Nara tepat berusia satu tahun. Semua barang sudah rapi dan siap diangkut.

Walau ada sedikit kesalahan teknis, kita sampai tepat pada waktunya. Setelah memohon ijin ke pengasuh, aku segera masuk ke ruangan yang meninggalkan kesan mendalam pada kunjungan pertama, kamar anak-anak dibawah 1.5 tahun.

Sambil menunggu kesiapan ruang dan kue, aku bermain dengan mereka, Kesan yang dulu tidak berubah bahkan semakin bertambah. Mereka tampak lebih segar dan ceria. Sungguh sangat menyenangkan melihat Nara bahagia bermain dengan teman-temannya.

Ruangan sudah siap, kue dan lilin sudah dinyalakan. Ruangan bergema oleh keriuhan anak-anak panti asuhan. Selamat ulang tahun Nara, begitu ucap anak-anak panti yang sudah lebih dewasa.

Selesai sudah acara kami disana. Dengan beberapa sumbangan dari kami, semoga mereka bisa semakin meneruskan hidup dengan lebih baik. Kami pun berpamitan dengan iringan doa semoga teman-teman Nara selalu sehat dan bahagia.

Ulang tahun Nara yang pertama kemarin juga mengandung makna lain yang tidak kalah pentingnya. Ultah Nara berarti istriku tercinta berhasil menjadi S2 dalam urusan ASI. Berhasil memberikan ASI eksklusif setahun penuh.
Bangga bercampur haru membayangkan perjuangan nya dalam setahun ini. Pagi, siang, sore bahkan malam berusaha terus memompa asi sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan Nara. Sungguh bukan perjuangan yang mudah.

Melihat Nara tumbuh sehat dan kuat membuat aku sangat bahagia. Tentu saja itu berkat perjuangan istriku tercinta. Dia memang istri dan ibu paling hebat sedunia. Semoga bisa berhasil memberi ASI sampai 2 tahun ya. Aku yakin kamu pasti bisa.

Selamat ulang tahun anakku tercinta. Selamat juga atas keberhasilan memberikan ASI untuk anak kita, istriku. Aku sayang kalian.