Selasa, 30 Juli 2013

Nini Karangasem

Seingatku, baru 2 kali aku bertemu dengan Beliau. Pertama ketika masa perkenalan. Saat itu aku diajak jalan-jalan ke Karangasem, rumah tua calon mertuaku yang perempuan. Sudah tua memang. Jalan harus di papah karena penyakit yang menyerang matanya sehingga tidak bisa melihat dengan baik. Beliau menyapa dengan ramah dan senyuman. Sambil memegang tanganku, hangat terasa. Belum lagi Beliau mengenal dengan baik kedua kakek nenekku, membuat aku merasa seolah-olah sudah kenal lama dengannya.

Begitu Nara lahir dan pulang ke Bali untuk pertama kalinya, kami sempat mengunjunginya di Denpasar. Seingatku, Beliau sedang berobat di sana. Nara sempat berfoto dalam pangkuannya. Dengan senyum yang khas, Beliau tampang sangat bahagia.

Mungkin hanya 2 kali itu ”jatah” aku untuk bertemu dengan Nini. Sekarang Nini telah tiada. Namun kehangatan dan senyuman itu akan selalu hidup dalam hatiku. Selamat jalan Nini. Semoga bisa beristirahat dengan tenang disana.

Belaian Dari Tangan Mungil

Hari sudah memasuki musim penghujan. Hawa di malam hari pun semakin menusuk tulang. Dingin, tidur pun semakin lelap.

Pukul 9 malam. Aku mulai mengajarkan Nara sebuah kedisiplinan dalam hal tidur malam. Jam 9 malam, Nara harus sudah mulai tidur. Jika dia ingin membaca buku atau bercerita, maka harus dilakukan sebelum pukul 9.

Kadang nara menolak karena masih ingin cerita, bermain atau sekedar menonton film favoritnya di DVD. Namun aku berusaha tidak ada toleransi untuk sebuah kedisiplinan.
Setelah beberapa hari berlalu, jam tidur Nara pun semakin sesuai. Jam 9 dia mulai masuk kamar dan mengantuk. Tak lama kemudian dia pun terlelap dengan mimpinya.

Aku pun mulai lelah dan mengantuk. Dan aku pun tertidur. Tiba-tiba aku terbangun karena sesuatu yang lembut membelai pipiku. Aku membuka mata. Sesosok putri kecil sedang membelai pipiku sambil tersenyum. Aku pun membalas senyumannya. Lalu sebuah ciuman hangat mendarat di pipiku. ”I love U Ji..” begitu ucapnya. Nara pun tersenyum  lagi dan kembali memejamkan matanya.

Apakah itu mimpi? Tidak. Itu benar-benar nyata dan itulah mungkin yang dikatakan orang Surga Dunia. Begitu indahnya. I Love U too Nara.. 

My Personal Pride

Dear Team,

Let’s congratulate Budi Dauh for being one of the region’s most astute investors, as recognized by sell-side individuals in the Indonesian Rupiah Bond market by The Asset. You may click on the link below for the article and the results (publish in Jul/Aug issue)


Semangat dan cinta dari keluarga tercinta membuat aku selalu bersemangat untuk memulai hari
I can not make it without your love and support.

Love u so much Istriku dan Nara

Sabtu, 06 Oktober 2012

Garuda Indonesia - My Pride

Naik pesawat? Hmm..itu hanya mimpi bagiku. Waktu aku kecil, hanya segelintir maskapai yang menguasai angkasa nusantara tercinta dan harga tiket begitu tinggi. Mendengar cerita saudaraku yang kebetulan sudah pernah mencicipi terbang mengangkasa membuat aku terpana. Begitu nikmatnya kah terbang naik pesawat?

Sejak saat itu, aku ingin sekali menjadi seorang pilot. Dengan jadi pilot, aku bisa terbang ke mana saja dengan gratis, begitu pikirku. Aku mulai mencari-cari informasi persyaratan apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pilot.

Suatu saat, di sebuah iklan televisi swasta, aku melihat sebuah iklan (jingle) yang membuat tekadku semakin kuat untuk menjadi seorang pilot. Iklan itu membuat aku sangat bangga akannya. Iklan itu adalah iklan maskapai Garuda Indonesia. Kira-kira begini penggalannya:

Garuda Indonesia, melentangkan sayapnya
Hantarkan dunia saksikan indahnya Indonesia...

Akhinya pada tahun 2003, dengan tabunganku aku berhasil membeli tiket pesawat Garuda Indonesia dengan tujuan Denpasar – Jakarta. Kalau tidak salah, harganya IDR600,000 (setelah diskon harga untuk mahasiswa). Nikmatnya terbang, gumamku. Pesawat itulah yang mengantarkanku untuk menempuh sidang kelulusanku.

Sejak saat itu, cinta dan kebanggaanku tidak pernah luntur. Kemanapun aku pergi, jika ada penerbangan Garuda Indonesia kesana, pasti menjadi pilihanku. Sering aku ditertawakan kenapa pilih Garuda Indonesia sedangkan seharusnya bisa mendapat jatah maskapai asing terkenal yang katanya lebih bagus? Jawabku karena aku nyaman dan bangga dengan Garuda Indonesia. Apalagi dengan jingle ”Kebanggaanku” membuat aku semakin bangga dengan milik negeri sendiri.

Sekarang, aku bukanlah seorang pilot. Karena suatu hal, aku tidak bisa mewujudkan cita-citaku itu. Namun, kebanggaanku tidak pernah luntur bahkan aku tularkan kepada anak dan istriku. Maju terus Garuda Indonesia.

Fly high, my pride...

Post Card Dari Negeri Seberang

Aku masih terlalu kecil untuk mengingat semuanya. Kira-kira saat itu masih kelas 4 SD. Setiap Pak Pos datang, kami berebut untuk menerima selembar port card dari Mama yang sedang kuliah di Australia.

Dengan kata pembuka ”Untuk Budi Sayang” Mama mulai menceritakan kabarnya disana dan bertanya bagaimana kabarku di rumah. Aku tidak ingat apakah aku pernah membalas setiap post card yang Mama kirimkan, namun aku ingat bagaimana senangnya menerima kabar dari Mama selain tentu koleksi perangko bergambar kangguru atau koala, binatang khas negeri seberang.

Senin, tanggal 24 September 2012 Mama kembali ke sana untuk meneruskan studinya. Walau cuma untuk waktu 3 bulan, tapi kenapa aku merasa itu waktu yang sangat lama? Mungkin aku merasa dejavu masa kecilku, atau mungkin saat Mama berangkat aku tidak bisa mengantar ke bandara karena sedang terbaring lemas di rumah.

Namun, sekarang paling tidak aku sudah bisa berkirim kabar via surat elektronik atau SMS jika tarif telepon internasional masih terhitung mahal. Sama seperti post card, SMS atau e-mail selalu aku tunggu dan aku janji pasti akan aku balas secepat yang aku bisa.

Sampai jumpa 3 bulan lagi Mom. Good luck programnya. We miss u...

Saat Terindah

Saat terindah adalah saat dia datang dan mendaratkan kecupan terhangatnya di pipiku

Saat terindah adalah saat dia meyambutku di depan pintu dengan senyum manisnya

Saat terindah adalah saat dia tidur lelap di pangkuanku

Saat terindah adalah saat pelukannya mendekap hangat tubuhku

Dan...saat terindah adalah saat aku ada bersama, menghabiskan dan menikmati waktu dengan Istri dan Narachan ku...

Sabtu, 22 September 2012

Pekerjaan Paling Mulia

”Aji, Ibu mau berhenti kerja ya..”

Kalimat tersebut muncul saat aku sedang asik berbincang di tengah kemacetan kotak Jakarta 4 bulan yang lalu. Tersentak dan mencoba mencari tahu apa yang melatarbelakangi pemikiran istri ku itu.

Setelah pindah kerja ke kantornya yang baru, cerita ceria dan lucu selalu meluncur manis. Aku merasa di kantor barunya itu dia menemukan sebuah lingkungan ”keluarga” yang hangat dan harmonis. Ada apa gerangan?

”Ibu hanya ingin fokus kepada Nara, apalagi Nara sudah minta sekolah”, begitu jawabnya. Hatiku tersenyum bahagia. Aku sungguh senang memiliki istri yang luar biasa ini. Dengan pendidikannya yang tinggi, dia mau melakukan pekerjaan yang kata sebagian orang ”hanya” ibu rumah tangga.

Dia sempat bertanya apakah aku tidak malu memiliki istri yang ”hanya” seorang ibu rumah tangga? Aku hanya bisa tersenyum. Aku mengatakan bahwa tidak pernah sedikitpun terlintas untuk merasa malu jika istriku menjadi ibu rumah tanggga. Bagiku, ibu rumah tangga ada pekerjaan yang paling mulia dan tinggi di dunia karena surat tugasnya langsung di tanda tangani olehNya.

Namun, jika kemudian hari dia rindu dan ingin kembali ke pekerjaan kantor yang dia cintai, aku tidak akan pernah melarangnya, karena semua yang telah dia lakukan adalah demi cinta, cinta yang tulus dan tiada henti untuk keluarga kecil kami.