Jumat, 23 Juni 2017

Japan Trip – Liburan Keluarga Hari 1

Setelah berburu tiket di Garuda Travel Fair (GTF), tibalah waktu kami untuk berangkat liburan ke Jepang. Liburan kami dari dari tanggal 10-19 Juni 2017. GA 874 berangkat dari Jakarta jam 23.35 malem. Hmm.. berat juga ya terbang malem. Untuk menghemat waktu dan tenaga, kami memutuskan untuk “transit” di hotel dekat bandara. Ibis Style menjadi pilihan kami dan mereka menyediakan bus ke bandara (gratis).




Setelah terbang dengan pesawat kebanggaanku kurang lebih 7 jam, tibalah kami di bandara Haneda Tokyo sekitar jam 08.50 pagi. Oh iya, waktu di Jepang 2 jam lebih cepat daripada di Jakarta.

Hal pertama yang kami cari begitu mendarat adalah toilet. Nah ini dia. Tombol toiletnya dalam Bahasa Jepang. Jadi menghandalkan gambar saja dan pecet sana pencet sini sampai bener apa yang diinginkan. Yang unik adalah, dudukan toiletnya selalu hangat, haahaa..




Begitu keluar Imigrasi, kita mencari counter informasi. Bagaimana cara menuju hotel dan dimana bisa nukerin voucher JR Pass. Kita beli JR Pass di Jakarta melalui Panorama Tour & Travel. Kita memilih yang 7 hari dengan harga IDR 3.7 Juta untuk Dewasa dan 1.8 Juta untuk anak-anak. Dibawah 6 tahun gratis. Untuk detail jenis dan harganya kalau mau yang lebih dari 7 hari, coba browsing ke https://www.japan-rail-pass.com/ .


Kita naik kereta subway menuju hotel. Ganti 2 kereta untuk bisa sampai di hotel. Memang awalnya keder juga melihat rute kereta di Jepang. Ruwet dan banyak banget sampai ga tahu harus liat yang mana. Tapi jangan khawatir. Berbekal www.maps.google.com udah sangat cukup. Tinggal masukin stasiun awal dan stasiun tujuan. Nanti dia kasi tahu naik kereta jenis dan line apa, turun dimana, ganti ke kereta apa semua lengkap. Bahkan bisa sampai nomor tracknya dan berapa stasiun yang kita lewati. Kalau masih belum paham, kita pakai jurus kedua yaitu tanya. Malu bertanya, sesat dijalan.



Tidak banyak yang bisa kita lakukan di hari pertama selain muter-muter dekat hotel sambil mengamati tempat dan target makan siang dan malam kita. Kita menginap di Hotel East 21 Tokyo untuk 2 anak dan 2 dewasa. Jadi dikamarnya ada 3 bed besar. Mantap. Semua hotel kami dapet dengan bantuan www.booking.com



Tips: Bagi yang rumahnya jauh seperti kita dan bawa anak kecil pula, transit di hotel dekat bandara sangat menghemat waktu dan tenaga sehingga mereka siap dan cukup istirahat untuk jadwal terbang malam. Cari juga yang ada transportasi bus bandaranya jadi bisa semakin hemat.  JR Pass bisa kita atur mulai awal berlakunya sesuai dengan jumlah hari yang kita beli. Tinggal kita tukarkan voucher yang sudah dibeli ke loket JR di Haneda. disana isi data dang minta masa berlaku JR mulai kapan sampai kapan, Kami masa berlakunya 12 - 18 Juni 2017 (7 hari). 

Rute: Bandara Haneda – Keikyu-Kuko Line (sampai stasiun Nihombashi). Dari Nihombashi ganti ke Tozai Line sampai ke Toyocho. Jarak stasiun Toyocho ke Hotel sekitar 650 meter. 

Rabu, 21 Juni 2017

Flores, Sepotong Surga Yang Jatuh Ke Bumi

Tanggal yang dinanti tiba. Kita akan berlibur ke Labuan Bajo tgl 8 – 12 April 2017. Mencoba membayangkan bagaimana indahnya tanah Flores seperti yang diceritakan di media atapun foto-foto yang yang berseliweran di internet.

Garuda Indonesia Bombardier melaju mulus dipayungi birunya langit mengantarkan kami ke Bandara Komodo. Sekitar 2 jam 30 menit kami tiba disana. Cuaca cerah dan segar menyambut kami. Kami menginap di La Prima Hotel yang memiliki pemandangan ke arah hutan/laut yang sangat cantik.



Hari kedua kami memulai perjalanan kami mengarungi Tanam Nasional Pulau Komodo. Aku tak menyangka Taman Nasional itu luas banget. Aku kira hanya pulau komodo saja yang masuk Taman Nasional. Ternyata seluruh kawasan perairan dan pulau-pulaunya termasuk Taman Nasional. Luas Banget.




Kami menyewa kapal (slow boat) secara pribadi dimana kapal tersebut cukup besar dan terdiri dari 2 kabin/kamar tidur. Ini seperi hotel terapung yang akan menjadi rumah kami dalam 2 hari kedepan.




Mengarungi lautan di Taman Nasional sangatlah indah. Tidak ada rasa bosan menghinggapi karena pemangandangan yang terhampar sangat menyegarkan mata. Tujuan pertama kami adalah ke Pulau Komodo. Waktu tempuh menggunakan slow boat sekitar 4 – 5 jam dari Labuan Bajo.

Jam 1 siang kami tiba di dermaga Pulau Komodo. Seekor komodo besar menyambut kami di pesisir pantai seolah-olah menyapa selamat datang di rumahku. Oh ya, sebelum sampai, kami disuguhkan makan siang di kapal yang enak banget dan lengkap. Menu 4 sehat 5 sempurna (tanpa susu). Di kapal ada 3 awak yaitu Nahkoda, Koki dan Pembantu Umum.


Kami memilih rute pendek untuk tracking di pulau komodo. Tentu tracking harus ditemani range agar aman dan tidak tersesat. Sebelum memulai perjalanan, kami di beri penjelasan singkat agar memahami aturan dan bagaimana komodo itu. Hayuuu berangkat.

Kami masuk kedalam hutan dan wow 3 komodo besar sedang tiduran santai di dekat sumber air. Takut juga melihat hewan liar dan buas langsung di alamnya dan dalam jarak yang sangat dekat. Ikuti arahan range niscaya kita akan selamat.



Puas melihat komodo, kami belayar ke Pink Beach. Pantai dengan hamparan pasir merah muda dan air yang jernih. Kami menghabiskan waktu sampai matahari terbenam disana. Maklum di Jakarta susah sekali menemukan pantai yang bersih dan cakep gini.



Malam hari kami merapat ke pulau kalong untuk bersandar. Banyak kapal ternyata sudah lempar jangkar disana untuk bermalam. Langit cerah dan saat itu adalah bulan purnama. Pemandangan yang indah dan sangat mempesona.




Pagi di tengah laut sangat indah. Matahari muncul dari ufuk timur memancarkan pesonanya. Kami berangkat menuju pulau padar yang terkenal itu. Kapal merapat dan kami siap mendaki. Perjalanan sekitar 1.7 km menanjak bisa kita tempuh dalam 30-40 menit tergantung kecepatan berjalan. Tiba dipuncak semua lelah terbayar. Pemandangan 3 lekuk pantai dengan warna pasir yang berbeda dilengkapi dengan bukit hijau bisa membuat kita tak berkedip. Disana kita merasa betapa kecilnya kita dihadapan alam dan Sang Pencipta. Luar biasa indahnya.



Ingin rasanya menghabiskan waktu lebih banyak disana dan menikmati segala keindahannya. Namun waktu sudah siang dan kami harus menuju ke pulau kanawa. Rencana kita mengingap disana tapi kita batalkan karena menurut kita penginapannya tidak layak. Tapi Kanawa memiliki pantai yang sangat indah dan ikan-ikan yang cantik.

Kami balik ke Labuan Bajo dan kembali menginap di La Prima. Malam hari kami jalan-jalan ke pelabuhan dan makan ikan di warung-warung tenda yang banyak berjajar di pinggir pelabuhan. Ikannya segar-segar dan harga pun sangat terjangkau.




Keesokan harinya kami menjelajah tempat wisata di Labuan Bajo yaitu bukit Silvia dan goa Batu Cermin. Bukit Silvia adalah salah satu bukit tertinggi di Labuan Bajo dimana kita bisa memandang pelabuan Labuan Bajo.



Puas disana, kita beranjak ke Goa Batu Cermin. Sejarahnya, Goa Batu Cermin adalah dasar laut yang naik ke permukaan sehingga kita masih bisa lihat fosil-folis hewan laut dan kristal-kristal menempel di dindingnya. Seru karena kita masuk menelusuri gua yang gelap dan hanya ditemani senter kecil dan cahaya yang masuk melalui celah-celah kecil gua.



Tibalah waktu kami balik ke Jakarta. Selamat tinggal Flores, tanah yang indah. Ternyata apa yang digambarkan kalau tanah Flores itu indah adalah salah. Tanah Flores itu tidak indah tapi indah banget. 

Garuda Travel Fair (GTF)

Ada Garuda Travel Fair (GTF) nih, begitu aku sampaikan ke istriku sekitar bulan Februari lalu. Lalu dia bertanya, ”kemana kita?” Wah ini dia pertanyaan yang sulit aku jawab. Aku hitung-hitung dulu ya, begitu jawabku sekenanya.

Belakangan hari ini aku sering membaca di media online mengenai Labuan Bajo/Pulau Komodo. Sejak dijadikan salah satu destinasi unggulan oleh pemerintah, banyak sekali ulasan yang bisa kita lihat di media online maupun cetak. Semakin tertariklah kita untuk menjelajah ke negeri bagian timur Indonesia yang terkenal indah.

Setelah berhitung, kita sepakat untuk liburan kesana. Mulailah aku mencari tiket saat GTF dan syukurnya mendapat tiket pas happy hour. Waktu itu aku belinya di Panorama Tour & Travel. Lumayan miring harganya. Akupun mengajak Mama untuk ikut liburan dan asyiknya Mama bisa ikut. Yipeeee, berangkat.....

Iseng jalan di Mal Citra Gran. Loh ada Panorama Tour & Travel juga toh disini, begitu ucapku kepada istri. Iseng juga lah Kita masuk kesana dan bertanya-tanya. ”Berapa harga tiket ke Jepang mbak?” Kalau sekarang harganya 4.8 juta Pak, begitu jawabnya. Hmm...ini termasuk murah ga ya? Pulang ke rumah dengan penasaran. Jepang emang menjadi salah satu destinasi yang ingin kita kunjungi. Tapi masalah klasik muncul. Duitnya ada ga?

Semalaman berfikir dan akhirnya keputusan diambil. Hajar saja sambil berdoa semoga bulan Maret ada rejeki, hahahha.. 

Selasa, 09 Mei 2017

Namanya AHOK

 Jakarta, 9 Mei 2017

Yang tercinta, anakku Nara dan Gita

Hari ini mungkin akan aku kenang sebagai hari kelabu dalam perjalanan hidupku. Kelabu karena aku menjadi saksi hidup bagaimana orang yang sangat jujur, baik, anti korupsi dan selalu menjadi pelindung bagi rakyatnya harus menjadi korban ganasnya tekanan kaum ”mayoritas”. Namanya Basuki Tjahaja Purnama atau yang lebih dikenal dengan nama AHOK.

Alkisah Jakarta jaman dahulu tidak mengalami perubahan dan kemajuan yang berarti. Kemudian datanglah sepasang orang yang bernama Joko Widodo (Jokowi) dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Mereka datang dengan tulus ingin melamar menjadi pelayan kota dan rakyat Jakarta, bukan sekedar menjadi pemimpin di Ibu Kota.

Dengan ketulusan, kejujuran dan hati yang murni mereka mulai membenahi kota yang dimulai dari birokrasinya sampai dengan anggarannya. Tujuannya gampang. Mereka ingin uang rakyat Jakarta yang dititipkan kepada mereka dapat digunakan sebaik-baiknya untuk warga Jakarta juga.

Ternyata, banyak yang tidak suka. Para koruptor dan ”penjahat” kehilangan ”penghasilan” dan ”mata pencaharian”. Namun dukungan rakyat sangat kuat. Mereka dengan gagah tetap melangkah dan berjalan, memperbaiki dan melayani rakyat Jakarta.

Tahun 2014, Indonesia memiliki Presiden baru. Iya, Jokowi terpilih dan dipercaya untuk mengemban tugas yang lebih berat lagi, menjadi pelayan rakyat Indonesia. Bukan lagi hanya ”sekedar” rakyat Jakarta.

Ahok, diangkat dan dilantik menjadi Gubernur Jakarta dan menjadi pelayan rakyat Jakarta. Namun sejak itu orang yang semakin tidak sukapun semakin banyak. Ternyata Ahok ini juga keras, juga tegas dan juga tidak bisa kompromi terhadap orang-orang yang menurutnya tidak jujur.

Tuduhan pun semakin banyak mengarah kepadanya. Dia beragama Kristen dan keturunan Cina (Tionghoa), yang menurut sebagian orang yang suka turun ke jalan, tidak pantas untuk memimpin kota Jakarta.

Namun dia tetap berjalan dengan kuatnya karena dia adalah pelayan kita. Segala perubahan untuk membuat Jakarta semakin baik dalam segala hal telah dia lakukan. Pelayanan, transportasi, kebersihan, banjir dan kemacetan semua dia tangani dengan baik. Maha karyanya terbukti dan tidak terbantahkan.

Iya, dia beragama Kristen dan keturunan Cina (Tionghoa). Tapi kalian tahu kemana dia berpihak? Dia memihak kepada masyarakat semua, bukan sebatas ”kaumnya”. Dia berdiri diatas integritas dan kejujuran. Dia berjalan sesuai aturan dan melayani dengan segenap hatinya. Untuk siapa? Untuk Jakarta dan rakyatnya.

Anakku, Nara dan Gita.
Tidak jarang dia harus melawan arus dan dimusuhi oleh banyak pihak karena dia harus berkata jujur, membela yang benar dan menjaga integritasnya. Dia seperti ikan Nemo yang pantang menyerah untuk melawan arus. Kenapa? Karena dia percaya kebenaran harus selalu ditegakkan dan Tuhan selalu menyertai orang yang jujur.

Hari ini, 9 Mei 2017 raganya harus dibungkam dibalik jeruji besi. Hancur dan sedih rasanya hati ini. Namun kalian tahu apa yang terjadi? Tenryata dia jauh lebih kuat dan tegar dari aku. Dia meminta kita terus berjuang dan terus berjalan di jalan yang benar. Hari ini,   raganya boleh dibungkam dan dikurung, namun jiwanya dan pemikirannya akan selalu ada untuk bangsa kita. Cinta dan doa kami untuk Ahok tidak akan bisa dibatasi oleh keras dan rapatnya jeruji besi.

Nanti kalau tiba saatnya, aku akan menceritakan kepada kalian dengan lebih lengkap bagaimana kuat dan hebatnya seseorang yang kita sebut AHOK.


Tetaplah mencintai Indonesia Anak-anakku. Tetaplah berbuat baik kepada sesama walau mungkin mereka menganggap kita berbeda. 

Minggu, 12 Februari 2017

Flash Back - Sebuah Perjalanan Yang Tak Akan Terlupakan

Waktu menunjukkan pukul 12.30 siang dan akupun sudah menyelesaikan makan siangku. Balik ke meja, iseng aku kembali membuka memori henponku. Mulai aku membukan satu-persatu foto liburan dan perjalanan kami ke New Zealand September tahun yang lalu.

Entah kenapa aku merasa sedang berada disana kembali. Menikmati penerbangan, menyelusuri jalanan sepi nan indah serta menghirup udara yang segar dan bersih sepanjang hari.

Masih terekam jelas hijaunya rerumputan, birunya langit dan putihnya salju yang menutupi pegunungan menjadi satu bingkai indah yang tak akan terlupakan. Karunia dan ciptaan Tuhan yang tiada tara.

Satu persatu kubuka album foto itu dan aku termenung di sebuah foto dimana aku dan keluarga tercintaku sedang berhenti di pinggir sebuah jalan dan berkesempatan berfoto bersama. Semua menunjukkan wajar dan ekspresi yang sangat ceria.

Tersenyum dan terharu aku melihatnya. Terbayang impian telah menjadi nyata. Dan istimewanya, aku kesana bersama keluarga tercintaku. Bisa melihat mereka tertawa dan tersenyum adalah kebahagiaan tak terkira.

Senang bisa menikmati hari-hari itu bersama dan semoga kita bisa lagi menikmatinya di suatu hari nanti dan tentu dengan tempat tujuan yang tak kalah serunya.


Travel is the only thing you buy, that makes you richer.


Senin, 12 Desember 2016

Pelukan Manja

Seperti biasa, malam itu aku pulang kerumah menggunakan bus perumahan kesayanganku. Bus belaju nyaman dijalanan ibukota yang sesak. Jam menunjukan pukul 6 sore dan aku sudah memasuki tol jagorawi. Hmm.. cukup lancar, begitu gumamku.

Menuju gerbang tol cibubur, arus mulai tersendat disebabkan jalur yang menyempit. Sekitar 20 menit, aku tiba di perumahan. Sudah jam 7 malam saat itu.

Aku menyusuri jalanan perumahan dengan harapan aku masih bisa berjumpa dan bercanda ria dengan keluarga tercintaku. Tiba di rumah dan kubuka pintu utama. Seorang sosok mungil lari dari dalam kamar sambil berteriak kegirangan dan memeluk kakiku erat. Dengan tatapan manja, dia minta digendong. Iya, dia adalah Gita.

Belum sempat aku melepas sepatuku, Gita minta digendong dan memelukku erat. Hangat dan indah terasa, menghapus dan membasuh segala lelahku hari itu. Pelan-pelan mulai aku mendaratkan tubuh di kursi dan tetap Gita tidak mau lepas.

”Aji mau mandi dulu ya”, aku berkata. Gita melepas pelukannya dan merelakan aku pergi mandi. Selesai mandi, akupun bersiap istirahat. Ternyata Gita belum terlelap walau waktu sudah jam 8 malam. Dengan manjanya lagi dia menjulurkan kedua tangan mungilnya mengisyaratkan kalau di pengen dipeluk. Wah..indahnya dunia.

Gita memintaku untuk menceritakan cerita Tiga Babi Kecil kesukaannya dan tentu saja aku tak bisa menolaknya walau cerita itu sudah sering kali diceritakan. Matanya mulai redup dan terlelap. Sejuk dan tenang melihat Gita terlelap dalam pelukanku. Terima kasih Tuhan telah memberikan cerita indah ini untukku.

Selasa, 20 September 2016

New Zealand - Mimpi Yang Tak Pernah Padam (Hari 8 : Christchurch - Jakarta - 14 September 2016)

Tibalah waktunya kami kembali ke tanah air tercinta Indonesia. Penerbangan masih dengan pesawat yang sama yaitu Qantas (ini karena Garuda Indonesia tidak ada aja) dan transit di Sydney selama 6 jam.

Kembali kami menghabiskan mata uang asing yang tersisa dengan membeli makanan dan cokelat untuk dibawa pulang. Penerbangan total kurang lebih 11 jam mengantarkan kami sampai ke Indonesia tercinta.



Disana memang indah dan pariwisatanya sudah dikelola dengan sangat matang dan baik sehingga pelancong merasa sangat nyaman dan aman.

Tapi Indonesia tidak kalah indahnya. Derawan, Bromo, Bali, Gili dan hampir seluruh wilayah Indonesia punya destinasi wisata yang sangat cantik dan luar biasa. Aku yakin, jika kita serius memajukannya, Indonesia akan menjadi destinasi wisata no. 1 di dunia. Dan jangan lupa merawat dan menjaganya demi masa depan kita dan masa depan anak-anak kita.

Terakhir, terima kasih kepada http://www.travelingprecils.com/p/new-zealand.html yang sudah menjadi referensi utama liburan kami kali ini. Intinya, tempat tidak penting. Yang penting adalah kita pergi dengan keluarga tercinta karena keluarga tercinta adalah rumah kita sesungguhnya.