Selasa, 06 April 2010

Dua Makna Penting


Sebuah pagi yang cerah menyapaku hari itu. 4 April 2010 adalah salah satu hari paling istimewa dalam perjalanan hidupku. Hari itu Nara tepat berusia satu tahun. Semua barang sudah rapi dan siap diangkut.

Walau ada sedikit kesalahan teknis, kita sampai tepat pada waktunya. Setelah memohon ijin ke pengasuh, aku segera masuk ke ruangan yang meninggalkan kesan mendalam pada kunjungan pertama, kamar anak-anak dibawah 1.5 tahun.

Sambil menunggu kesiapan ruang dan kue, aku bermain dengan mereka, Kesan yang dulu tidak berubah bahkan semakin bertambah. Mereka tampak lebih segar dan ceria. Sungguh sangat menyenangkan melihat Nara bahagia bermain dengan teman-temannya.

Ruangan sudah siap, kue dan lilin sudah dinyalakan. Ruangan bergema oleh keriuhan anak-anak panti asuhan. Selamat ulang tahun Nara, begitu ucap anak-anak panti yang sudah lebih dewasa.

Selesai sudah acara kami disana. Dengan beberapa sumbangan dari kami, semoga mereka bisa semakin meneruskan hidup dengan lebih baik. Kami pun berpamitan dengan iringan doa semoga teman-teman Nara selalu sehat dan bahagia.

Ulang tahun Nara yang pertama kemarin juga mengandung makna lain yang tidak kalah pentingnya. Ultah Nara berarti istriku tercinta berhasil menjadi S2 dalam urusan ASI. Berhasil memberikan ASI eksklusif setahun penuh.
Bangga bercampur haru membayangkan perjuangan nya dalam setahun ini. Pagi, siang, sore bahkan malam berusaha terus memompa asi sehingga cukup untuk memenuhi kebutuhan Nara. Sungguh bukan perjuangan yang mudah.

Melihat Nara tumbuh sehat dan kuat membuat aku sangat bahagia. Tentu saja itu berkat perjuangan istriku tercinta. Dia memang istri dan ibu paling hebat sedunia. Semoga bisa berhasil memberi ASI sampai 2 tahun ya. Aku yakin kamu pasti bisa.

Selamat ulang tahun anakku tercinta. Selamat juga atas keberhasilan memberikan ASI untuk anak kita, istriku. Aku sayang kalian.

Minggu, 21 Maret 2010

Panti Asuhan Tunas Bangsa

Kemarin sore aku mengalami perjalanan yang sungguh luar biasa. Aku, istri Nara dan Mbak Sum berkunjung ke sebuah panti asuhan khusus balita di wilayah cipayung, tepatnya di Jalan Bina Marga No. 79 Cipayung. Nama panti asuhan itu adalah Tunas Bangsa.

Tujuan aku kesana bukan karena faktor ketidaksengajaan tapi karena memang niat untuk kesana. Tanggal 4 April ini Nara akan berulang tahun yang pertama. Aku dan istriku sepakat untuk tidak merayakannya (pesta). Alasannya adalah karena Nara masih terlalu kecil dan belum mengerti serta kami sepakat Nara sejak kecil harus diajarkan berbagi. Oleh karena itu ulang tahun Nara akan dilaksanakan di Panti Asuhan Tunas Bangsa hanya dengan berbagi (dan bukan pesta) dengan kawan-kawannya disana.

Setelah bertanya sana kemarin akhirnya kami berhasil menemukan lokasinya. Sebenarnya tidak susah untuk sampai disana tapi karena aku tidak paham jalan saja jadi terlihat jauh dan ruwet.

Tiba disana kami masuk ke kantor pengasuh dan disambut dengan hangat oleh Ibu Rohaya, salah satu pengasuh disana. Kami memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan kami. Ternyata telpon disana sempat rusak sehingga telpon kami tidak bisa masuk.

Kamipun berkesempatan untuk berkunjung ke kamar balita disana. Begitu pintu di buka, terlihat tawa ceria anak-anak yang sebaya dengan Nara. Mereka tampak begitu bahagia dan sangat lucu. Nara langsung bermain ceria dengan mereka. Bahagia melihat Nara bertemu dengan teman – temannya. Namun di balik itu, hatiku miris. Bagaimana bisa dan tega orang tua meninggalkan mereka, anak yang sangat cantik dan lucu-lucu itu disana?

Banyak kasus yang menyebabkan hal itu ternjadi. Misalnya di tinggal di RS karena tidak sanggup bayar, anak di luar nikah, anak dari ibu yang kurang waras dan diperkosa, dll.

Namun waktu jua yang memisahkan kami dengan anak-anak lucu yang kurang beruntung itu. Sedih rasanya meninggalkan mereka. Apalagi ada salah seorang anak yang namanya Farel, sejak kami tiba disana selalu minta di peluk dan di gendong. Sampai akhirnya dia menangis karena kami harus pulang.

Sampai sekarang masih terbayang wajah – wajah mereka dengan tatapan mata yang sedih melihat kami melambaikan tangan. Kami akan kembali tanggal 4 April 2010 besok kesana. Aku yakin Nara pasti akan sangat gembira bertemu mereka lagi.

Terima kasih istriku sudah memberikan ide yang sangat baik untuk mensyukuri hari ulang tahun Nara yang ke-1. Pengalaman kemarin membuat aku semakin mensyukuri hidup ini karena kita memiliki sebuah keluarga kecil yang sempurna dan bahagia.
NB: Tunggu Foto-Foto Kami Berikutnya..

Senin, 15 Maret 2010

Mimpi Yang Tak Pernah Padam

Entah kenapa semenjak aku tahu sedikit tentang ekonomi negara itu, aku sangat tertarik untuk bisa hidup dan kerja disana. Sebuah negara yang tidak terlalu luas dimana jumlah hewan ternaknya melebihi jumlah pemiliknya sampai dengan rasio 1:6 yang artinya setiap orang disana memiliki 6 hewan ternak. Negara itu adalah New Zealand.

Aku mulai tahu akan keberadaan negara itu sejak SD yang dibahas dalam pelajaran IPS. Kesan pertama begitu menggoda. Dari sekian negara di dunia yang aku pelajari, New Zealand adalah negara yang paling unik dan menarik bagiku.

Semakin aku bertambah umur, semakin tambah pula pengetahuanku. Aku mulai senang berselancar di internet untuk sekedar mengamati perkembangan negara itu. Belum lagi di tambah dengan penayangan film tri logi Lord Of The Ring yang lokasi syutingnya mengambil tempat disana membuat aku semakin kagum akan keindahan alam dan pemandangannya.

Sekarang setelah sekian lama berlalu, mimpi itu tak kunjung padam. Aku masih memendam keinginan untuk hidup disana. Membayangkan alamnya yang masih asri, lingkungan yang ramah, bebas dari polusi dan kemacetan sangat menarik minatku.

Aku membayangkan bisa membesarkan Nara dan menjaga keluargaku dalam lingkungan yang lebih kondusif dan sehat. Mungkin cita-cita itu masih sekedar jadi mimpiku dan belum tercapai dalam waktu dekat ini. Namun aku tidak kecewa karena disini, di negara yang aku cintai ini, aku ditemani oleh Nara dan Istri yang sangat luar biasa.

Jikapun nanti mimpi aku tak tercapai, aku tak mengapa. Tak perlu aku keliling dunia atau tinggal di sana. Yang penting dimanapun aku berada, aku selalu di temani oleh keluarga kecil ku tercinta. Dan aku yak mau jauh darimu.

Kamis, 04 Maret 2010

Bangkok

Bangkok. Hmm...mendengar katanya pun sudah membuat lemas dan tak bersemangat. Apa yang terjadi dengan Bangkok? Kenapa aku begitu tidak senang mendengarnya?

Bangkok adalah salah satu kota di negara ASEAN yang belum pernah aku kunjungi. Seharusnya disana akan banyak hal-hal menarik dan berbeda yang tidak ada di negara ku tercinta, Indonesia. Namun walaupan demikian, tetap saja membuat aku tidak bersemangat walau hanya untuk mendengar namanya.

Salah satu hadiah yang diberikan oleh kantor tempat istriku bekerja ada trip jalan-jalan ke luar negeri bahkan bisa sampai menjelajah dinginnya eropa. Untuk awal tahun ini, hadianya adalah trip ke Bangkok (lagi) selama 4 hari. Wah kebayang deh suramnya rumah tanpa kehadirannya menikmati liburan dan bermain bersama Naraku tercinta.

Aku tahu dia sudah pernah mengatakan untuk menolak trip kali ini karena tidak tahan jauh dari wajah imut dan menggemaskan yang selalu tertawa ceria jika sedang berkumpul bersama. Dia adalah putri kecil kami, NaraChan. Namun apa mau di kata, kantor tidak memberikan ijin untuk tidak berangkat.

Huh...ini pasti akan jadi akhir pekan yang tidak lengkap (lagi) tanpa adanya bersama kami. Ingin rasanya menjemput ke bandara bersama Nara menunggu dia keluar dari pintu kedatangan dan siap menyambut dengan pelukan terhangat dan senyum ceria. Namun kedatangannya di hari kerja. Tapi walau aku dan Nara tidak bisa menyambutnya di pintu gerbang kedatangan, aku yakin begitu dia membuka pintu ruang tamu di rumah mungil kami, sesosok anak kecil cantik dengan rambut keritingnya pasti sudah siap menyambut dan tersenyum lebar bergelayut manja di pelukannya. Tidak sabar untuk segera mengalami hari itu.

Selasa, 23 Februari 2010

Pardiman

Namanya Pardiman. Sosoknya kurus dan tinggi. Kulitnya pun rada gelap tersembur panasnya sinar matahari di persimpangan jalan plaza cibubur yang selalu sibuk.

Setiap hari aku berangkat kantor pukul 6 pagi. Kira-kira butuh waktu 15 menit untuk aku tiba di persimpangan plaza cibubur. Aku melihat sosok Pardiman lengkap dengan jaket hijau stabilo dengan tulisan ”POLISI” di punggungnya sedang beraksi. Berbekal pluit dan pentungan plastik yang tampak lusuh melaksanakan tugas pada jam dimana sebagian orang masih tertidur lelap.

Beberapa saat aku tidak dapat melihat Pardiman. Kemana dia? Sedang istirahatkah? Tiba-tiba dari balik tikungan dia muncul dengan sebuah galah bambu yang panjang seperti orang olah raga lompat galah. Mau apa dia? Ternyata lampu lalu lintas di atas tidak berapa pada posisi yang sepatutnya. Dengan berusaha keras mengarahkan galah saktinya dia berhasil memperbaiki posisi lampu lalu lintas itu. Secercah senyum muncul dari wajahnya.

Pritttt....Pardiman memberhentikan beberapa buah mobil pagi itu. Mereka melanggar lampu lalu lintas dan rambu lalu lintas. Dengan percaya diri para pengemudi berusaha mendekati Pardiman yang tampak tenang, berusaha jalan ”damai”. Senyum kecut tiba-tiba merona dari wajah para pengemudi begitu Pardiman memberi mereka surat tilang. Tidak ada jalan ”damai” darinya.

Aku tiba di cibubur sekitar pukul 8 malam. Dia masih disana dengan pakaian lengkapnya. Aku sampai bertanya dalam hati. ”Emang jam kerja polisi dari jam brapa ke jam brapa ya?” Mungkin sampai jalanan terlihat lancar dan tidak membutuhkan bantuannya, begitu pikirku.

Pardiman. Sosok polisi jujur, penuh dedikasi dan tanggung jawab. Walau aku tidak pernah mengenalnya, tapi aku sangat berharap semoga Pardiman selalu diberi kesehatan, rejeki dan kebahagian untuk dirinya dan keluarganya.

Rabu, 17 Februari 2010

Hymne

Entah mengapa tiba-tiba aku teringat lagu Hymne Almamater Universitas Indonesia. Namun aku sama sekali tidak bisa mengingat lirik maupun nadanya sedikitpun. Padahal itu salah satu lagu favoritku.

Tanpa menunda waktu, aku segera mencarinya melalui fasilitas google di HP ku. Dalam sekejap aku berhasil menemukan liriknya. Seketika itu juga aku berhasil mengingat Nadanya.

Begini syair Hymne nya:

Almamaterku setia berjasa
Universitas Indonesia
Kami wargamu
Bertekad bersatu
Kami amalkan Tri Dharma mu
Dan Mengabdi Tuhan
Dan Mengabdi Bangsa
Dan Negara Indonesia

Cipt. HS Mutahar

Setelah berhasil bersenandung dalam hati, ingatanku kembali ke rumah mungilku di cibubur. Aku membayangkan 2 sosok perempuan yang sangat aku cintai, Istri dan anakku Nara.

Lagu Hymne itu benar-benar membuat jantungku bergetar. Tak pernah menyangka aku bisa masuk dan lulus disana. Sekarang, aku bisa memperoleh nikmat untuk mengabdi. Seperti lirik diatas, Mengabdi kepada Tuhan, Bangsa dan Negara Indonesia, tentu saja mengabdi kepada Keluarga tercintaku, berusaha membuat mereka selalu bahagia dan tersenyum ceria.

Terima kasih almamaterku.

I Did My Part

Aku seperti dejavu. Pikiranku kembali kepada masa-masa itu. Masa dimana aku mengalami suatu perasaan yang gundah karena sedang menanti sesuatu yang sangat aku harapkan.

Waktu itu aku hanya bisa merenung di teras atas sambil memperhatikan rumah kaca yang berisi tanaman percobaan para mahasiswa sebuah universitas swasta yang tampak menghijau dari kejauhan. Kadang kala banyak orang yang bermain bola di lapangan sekitar rumah kaca itu. Ingin rasanya turut bermain, namun tak satupun dari mereka yang aku kenal.

Sambil memegang sebuah buku dan gitar aku mulai menghibur hatiku. Walau aku tidak mahir dalam memainkannya, namun beberapa buah lirik lagu dapat mengaburkan kegundahan hatiku.

Begitu lagu selesai aku mainkan, kembali aku tertunduk dan bertanya dalam hati. Apa yang salah dari proses ini?Kenapa yang aku harapkan tak kunjung datang?

Waktu itu ada seorang temanku memberiku suatu nasihat yang sangat mujarab. Dia mengatakan bahwa kita hanya bisa melihat beberapa langkah kedepan, tapi Tuhan bisa melihat jauh lebih jauh daripada yang kita bayangkan. Tuhan pasti sudah menyiapkan suatu rencana besar dan indah buatku. Begitu katanya.

Sekarang, aku mengalami hal yang sama lagi seperti masa-masa itu. Nasehat mujarab yang aku peroleh dulu ternyata masih belum mampu meredam kegelisahan hatiku. Apakah ini berarti keyakinanku berkurang kepadaNYA? Atau pengharapanku yang terlalu besar melebihi pengharapanku dimasa lampau?

Dalam sebuah bincang – bincang santai di waktu makan siang, salah seorang teman kantorku membaca kegelisahan hatiku. Dia mulai memberiku semangat dan melontarkan sebuah kalimat yang menyentak hatiku.

Keyakinanku kepadaNYA tidak pernah berkurang sedikitpun. Namun mungkin nafsu dan pengharapanku yang terlampau telah menidurkan dan menyamarkan keyakinanku. Sampai pada suatu saat kata-kata itu melegakan semuanya. I did my part, then let’s GOD do the rest. Itulah kata-kata yang menyentak hatiku dan meruntuhkan semua kegundahanku. Hyang Widhi be with me always!!!