Selasa, 01 Maret 2016

My Cheerleaders

Kemarin aku benar-benar galau. Seolah-olah aku kehilangan semua kemampuan dan kepercayaan diriku dalam melakukan pekerjaan yang sudah aku tekuni dan jalani lebih dari 10 tahun terakhir. Entah kenapa aku seperti kehilangan semuanya.

Diperjalanan pulang, kegalauanku semakin menjadi-jadi. Aku pasang handfree dan aku telepon belahan hatiku. Mulau aku menceritakan apa yang sedang aku alami dan bagaimana galaunya diriku.

Dengan sabar dia mendengarkan dan mulai memberi masukan. Harus mencari apa dulu penyebabnya karena dia ternyata sudah memperhatikan gegalauanku sejam 2-3 bulan terakhir.

Satu persatu dia coba memilah apa yang kira-kira menjadi penyebabnya. Ketemu yang pertama. Mungkin aku sedikit bangga berlebihan akan pencapaianku 5 tahun terakhir ini dimana aku selalu berada diatas. Tiga kali promosi dalam kurun waktu 5 tahun menyebabkan aku merasa selalu diatas. Sekarang, aku merasa sedang dibawah dan tidak bisa menerima keadaan dan menjadi pikiran ku terus. Tuhan menyentil aku dengan kondisi ini.

Aku tidak pernah lupa bersyukur atas semua karunia ini tapi mungkin dalam hati kecilku sudah muncul arogansi dan kebanggaan yang terlalu berlebih. Dia menyarankan aku untuk lebih rendah hati dan tidak terlalu berbangga berlebihan. Iya, mungkin aku memang seperti itu.

Kedua, aku disarankan untuk selalu melihat kedepan dan tidak selalu merenungi apa yang terjadi dibelakang. Kesalahan dalam pekerjaanku aku anggap suatu aib dan selalu menjadi pikiranku dan selalu merasa bodoh.

Dia hanya tersenyum mendegar aku bercerita seperti itu. Dan dia berkata ”tahu film Frozen khan? And just let it Go”. Tanpa bercerita lagi, kata-kata itu benar-benar membuka mataku dan pikiranku. Iya benar, harusnya yang dibelakang, biarkanlah dibelakang. Jadikan dia pelajaran bukan penyesalan.

Sekarang aku melangkah dan menatap hari yang baru dengan semangat dan motivasi yang baru juga. Aku tahu disaat aku butuh motivasi dan semangat, dia selalu ada disana. I Found my Cheerleaders.

Minggu, 28 Februari 2016

More For You

Beberapa hari yang lalu aku sempat mengambil cuti satu hari sebagai pengganti karena aku harus masuk pada hari sabtu. Suatu kemewahan rasanya bisa bangun jam 6 pagi di hari kerja.

Namun begitu aku bangun, ternyata istriku sudah sibuk dengan  perlengkapan ”perangnya” di dapur. Sejak kami memulai mencoba jualan ayam betutu dan nugget lebih dari 2 tahun yang lalu, kesibukannya bertambah.

Bangun jam 3.30 am dan mulai masak. Terutama untuk jualan di ”warung” setiap sabtu dan minggunya. Dulu, dia bangun jam 6 saja sudah berat, namun sekarang sungguh luar biasa.

Dia bekerja dari pagi untuk memenuhi pesanan, jadi sopir antar jemput anak dan tidak ketinggalan mengurus rumah tangga termasuk mengasuh si mungil Gita Senja, setiap harinya.

Tiada lagi yang aku minta selain syukur yang terucap dikaruniai seorang istri yang cantik dan hebat dan bahkan juga seorang ibu yang sangat luar biasa. I love U more and more. 

Sebuah Doa Yang Indah

Setiap malam, sebelum tidur, aku selalu berdoa bersama Nara. Matram dengan indah terlantun dari bibir mungilnya. Seluruh doa yang berjumlah 6 bait dengan lancar dia lafalkan.

Setelah berdoa dengan mantra Tri Sandya, dia menambahkan dengan doanya sendiri. ”Tuhan, semoga Aji, Ibu, Nara dan Adik Gita selalu sehat dan selamat ya”, begitu ucapnya.

Selesai sembahyang, kami pun berbicang singkat mengenai aktifitas bermainnya hari ini. Dia sangat senang dan bersemangat menceritakan sepatu rodanya. Jatuh tidak membuatnya jera, namun semakin bersemangat.

Aku hanya mengatakan kalau bermain juga harus hati-hati agar tidak celaka. Bukan anggukan yang aku peroleh namun sebuah pelukan erat dan hangat yang dia berikan. ”Nara juga ga mau Aji celaka karena Nara sayang Aji. Nara mau bersama-sama dengan keluarga kita terus dan tidak terpisahkan”.

Suatu pelukan dan ucapan yang sangat meneduhkan dan indah. Andaikan Ibu dan Gita juga mendengar langsung ucapan itu, pasti kita akan berpelukan bersama. Iya kita berempat.

Nara sudah menjadi anak dan kakak yang luar biasa. Dan Aji yakin kita berempat pasti akan menjadi keluarga yang selalu bahagia. 

Kamis, 19 Maret 2015

Selalu Disisiku

Sudah seminggu berlalu sejak Dia dan Gita pulang ke Bali untuk merawat ibunya yang sedang sakit. ”Hhmm..masih ada seminggu lagi ya”, begitu gumamku dalam hati. Pulang ke rumah, tak ada senyum dan pelukan hangat yang menyambutku di depan pintu. Tak ada yang menemaniku menikmati buah segar yang terhidang manis di meja makan mungil di belakang rumahku. Aku lalui malam dalam kesendirianku dengan menatap fotomu yang ada di handphone ku. Mata ku tak kunjung terpejam. Tergadang lagu sayup-sayup terdengar menemani dinginnya malam.

Ku hitung detik demi detik, memikirkan tentang kamu. Dapat kudengar suaramu di setiap detak jantungku, dapat kucium wangimu di setiap nafasku. Tak lama kemudian, akupun terlelap dalam renungan dalam.

Malam ini, aku hanya ingin memelukmu. Kehadiranmu benar-benar bermakna. Tanpamu aku hampa. Hatiku sudah terkunci dan tidak ada yang lain lagi. Aku hanya mau mencintaimu sepanjang hidupku.

Jam menunjukkan pukul 23.00 wib ketika aku terbangun dari renungan dan lamunanku. ”Hhmm..masih ada seminggu lagi ya”, kembali aku bergumam. Tapi aku akan menunggu waktu istimewa itu tiba karena aku tahu bahwa aku membutuhkan mu untuk selalu ada dan berjalan disampingku, selamanya 

Karena Dia Adalah Seorang Ibu

Air mata tiba-tiba mengalir deras dari kedua matanya. Tanpa berkatapun aku tahu apa yang sedang dia rasakan. Dia merasa sedih, aku pun lebih merasakan kesedihan itu. Aku tahu hatinya sedang bimbang. Disini, dia tidak bisa melepaskan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu yang luar biasa, dimana anak-anak selalu membutuhkan belaian dan kasih sayangnya. Namun disisi lain nan jauh disana, ibunya juga membutuhkan kehadirannya. Tidak mungkin memilih mana yang diprioritaskan karena menurutku, semuanya adalah prioritas hidup kita.

Air mata tetap mengalir deras membasahi pipinya. Hanya pelukan hangat yang bisa aku berikan, berusaha menenangkan hatinya yang sedang resah. Dalam keheningan hati, aku berbisik, ”istriku, silahkan kamu dan Gita pulang 2 minggu ke Bali, Nara dan Aji akan di Jkt saja”.

Sempat tergurat keraguan diwajahnya. Namun aku berusaha meyakinkan bahwa aku dan Nara akan baik-baik saja disini. Untuk saat ini, merawat Ibu yang sedang terbaring lemah adalah yang harus diutamakan.

Akhirnya air matanya berhenti mengalir. Dia berkata ”baiklah, aku akan pulang”. Aku tahu itu bukan keputusan yang mudah, namun aku coba mencoba menjelaskan bahwa seorang ibu pasti mengharapkan kehadiran anaknya untuk ada disaat dia membutuhkan.

Aku yakin dia telah menjalankan perannya dengan sangat baik dan sempurna karena dia adalah seorang anak dan juga sekaligus seorang ibu yang sangat luar biasa untuk anak-anakku.

Kamis, 17 April 2014

Gita Senja

Tiba-tiba pukul 02.30 WIB, istriku membangunkanku. Sedikit kaget dan khawatir apa yang terlah terjadi. Istriku merasa sakit dan tidak nyaman di kandungannya. Aku tahu dia berusaha tenang dan tidak membuatku khawatir dengan ”hanya” meminta untuk di pijat.

Namun apa yang telah dokter jelaskan hari sabtu lalu saat kontrol rutin membuatku harus meningkatkan kewaspadaanku. Tidak ada alasan, aku memaksa untuk segera pergi ke rumah sakit untuk segera dilakukan diagnosa.

Nara aku bangunkan dan dengan semangat segera ikut menemani ke rumah sakit. Setiba di rumah sakit, istriku langsung di rujuk ke ruang bersalin karena kandungan sudah berusia 38 minggu.

Tak berapa lama, suster menyampaikan informasi kalau dokter mengatakan harus segera dilakukan tindakan pada pukul 06.30 wib. Deg-degan campur senang berkecambung dalam dada. Tak bosan-bosan aku panjatkan doa supaya proses persalinan berjalan lancar dan bayi serta istriku dalam sehat dan selamat.

Tangis yang aku tunggu akhirnya terdengar juga. Ida Ayu Gita Senja Putri Dauh melengkapi kebahagian keluarga kecil kami. Seiring doa yang tersemat dalam namanya, semoga Gita bisa menjadi anak yang selalu riang, lembut, jujur dan sederhana serta memberi kebahagiaan pada semua.

Aji, Ibu dan Kakak Nara semakin bahagia dengan kehadiran Gita. Kami semua sayang Gita.

Sabtu, 22 Februari 2014

Lentera Jiwaku

Kemaren malam, aku menonton acara favoritku sejak 8 tahun yang lalu yaitu Kick Andy. Acara yang sangat inspiratif dan bisa menambah kepekaan kita sebagai manusia. 

Dalam salah satu sesinya, mereka membahas mengenai Kick Andy yang dinamakan Kick Andy off air yang diberi judul Lentera Jiwa. Judul itu terinspirasi dari sebuah judul lagu ciptaan Nugie yang mulai populer tahun 2009 kalau tidak salah.

Syair lagu melantun dengan merdu. Mata tetap aku arahkan ke televisi, namun tidak dengan pikiran dan perasaanku. Tiba-tiba perasaanku hayut dalam syair lagu itu dan pikiranku melayang jauh ke masa yang lalu. Aku teringat ketika waktu lulus SMP, aku ingin masuk ke SMA 1 Denpasar (Smansa), sekolah terbaik dan terfavorit di Bali. Entah kenapa, aku tidak mau sekolah lain dan hanya Smansa yang ada dipikiran dan hatiku. 

Sempat aku disarankan untuk tidak sekolah disana karena ini dan itu sehingga dijamin aku tidak akan bisa bertahan dan berprestasi disana. Aku bingung di tengah waktu pendaftaran yang semakin mendesak. Ditengah kebimbangan itu, suatu malam Papa datang menghampiriku di kamar dan berkata "Kalau Budi yakin kesana, jalani aja". Terang duniaku. akupun masuk kesana, masuk kelas unggulan, jadi ketua OSIS dan mendapat PMDK ke UI. Tanpa kusadari aku sudah mengikuti kata hatiku, lentera jiwaku yang pada saat itu dijaga oleh Papa.

Hal yang sama juga terjadi begitu aku mau berangkat kuliah. Entah bagaimana, aku sangat terpesona oleh jaket almamater UI yang berwarna kuning cerah. Dengan bermodal nilai rapot yang cukup, aku melamar PMDK di UI. seperti dejavu, aku kembali diragukan dengan berbagai alasan yang kadang tidak dapat aku mengerti. Hati nurani mengatakan aku harus berangkat ke UI, namun lentera itu nyaris redup sampai Papa kembali menyalakan dan menghangatkannya. Maka berangkatlah aku ke UI.

Dengan waktu 3.5 tahun, aku bisa mengenyam gelar sarjana di FEUI dengan nilai yang bisa aku banggakan. Perjuangan pada saat kuliah tidaklah mudah. Home sick menjadi kendala dan penghambat terbesarku. Lentera jiwaku nyaris redup. Terima kasih pada Tuhan aku mempunyai Mama yang luar biasa dan terus membimbing dan memotivasiku untuk tidak pernah menyerah hingga lentera itu tetap menyala. Lulus kuliah, aku bekerja di kantor yang nyaman namun aku sadar itu bukan bidang pekerjaan yang aku dambakan. Aku ragu dan takut pindah kerja karena tempat itu begitu nyaman dan aman. Namun aku sadar lentera jiwaku menuntunku untuk ke tempat lain. Dengan segala risiko, aku pindah kerja karena aku yakin lentera jiwaku akan menjadi penunjuk jalanku dan benar, aku mendapat jalanku.

Tersadar kembali pada acara televisi favoritku. Perasaan haru campur aduk di dada. Aku bersyukur pada Tuhan karena aku selalu diberi lentera jiwa yang tidak pernah padam dan selalu menjadi penuntun jalanku serta dikelilingi oleh orang-orang tercinta yang menjaga lentera jiwaku tetap menyala terang penuh keyakinan.

Sekarang aku adalah seorang kepada keluarga dari sebuah keluarga kecil yang sangat sempurna dan bahagia. Aku memiliki Istri yang luar biasa dan anak (Nara) yang penuh kejutan. Dengan menonton acara kemarin malam, aku sangat bersyukur karena Tuhan kembali mengingatkanku akan lentera jiwa.

Akupun kembali berjanji untuk tidak akan pernah memaksakan Nara dan adiknya yang akan segera menghirup udara di dunia untuk menjadi apa di kemudian hari. Aku akan membiarkan mereka sekolah dan menyalurkan minat sesuai dengan panggilan dan tuntunan jiwanya karena aku yakin akan murninya hati nurani yang akan menuntun mereka untuk menemukan kebahagiannya kelak. 

Biarkan mereka mengikuti suara dalam hati yang selalu membunyikan cinta.
Ku percaya dan kuyakini murninya nurani, menjadi penunjuk jalannya, lentera jiwa mereka.