Selasa, 20 September 2016

New Zealand - Mimpi Yang Tak Pernah Padam (Hari 5 : Te Anau - Milford Sound - 11 September 2016)

Selamat ulang tahun Mama tercinta. Ini adalah hari yang sangat special. Liburan ini kami memang rencanakan agar bisa merayakan hari ulang tahun Mama di New Zealand. Walau sempat lupa hari, tapi setelah dipancing syukurnya ingat juga, hihihihi...


Setelah menyanyikan lagu ulang tahun di pagi hari, kami lanjutkan sarapan indah di hari spesial ini. Setelah semua beres, kami berangkat menuju salah satu surga dunia yaitu Milford Sound.

Rute ini merupakan rute terlengkap menurut aku. Sepanjang perjalanan 118 km kami disuguhi oleh hamparan peternakan, hutan, danau, mirror lake dan pegunungan. Ada suatu tempat dimana kita bisa menikmati dan berfoto dengan rumput yang sangat luas dilatarbelakangi oleh pegunungan hijau berselimut salju, langit yang biru dan air yang jernih menyatu menjadi satu bingkai indah.



Perjalanan menuju ke Milford Sound haru melalui terowongan yang membelah pegunungan dengan panjang kurang lebih 1.7 km dan harus jalan bergantian. Sembari nunggu giliran jalan, burung Kea bertengger di spion, kap mesin dan atap mobil sambil menggigiti karet di kaca mobil. Disinilah asuransi all risk yang kami beli sewaktu menyewa mobil dapat melindungi kami, hehehe... 




Tiba di Milford Sound jam 11.45 pagi. Supaya agak santai, kami memilih cruise yang jam 13.30. Berangkat tepat waktu dan wow kami menelusuri hamparan pengunungan yang agung, seal rock, lumba-lumba dan air terjun yang merupakan lelehan salju di puncak gunung. Puas menikmati Milford Sound kurang lebih 2 jam, kami kembali ke Te Anau melalui jalan yang sama dengan hati gembira. 



New Zealand - Mimpi Yang Tak Pernah Padam (Hari 4 : Wanaka - Te Anau - 10 September 2016)

Ini adalah rute terpanjang kami selama perjalanan darat di pulau selatan. Panjangnya sekitar 228 km. Rute ini sangat menantang dan menyenangkan. Diawali dengan hamparan rumput hijau dan perternakan kemudian diiringi oleh hamparan pegunungan putih diselimuti salju. Seperti biasa, beberapa kali kami harus menghentikan kendaraan kami untuk menikmati indahnya bentang alam.

Arah ke Te Anau kami melewatis alah satu kota cantik di New Zealand yang ramai dikunjungi para turis dan pelancong yaitu Queenstown. Kota cantik ini kami sudah dapat lihat dari salah satu suduh di pegunungan Cardrona.



Kami menyempatkan diri mampir ke Queenstown untuk makan siang, main dan menikmati keindahan kota dari ketinggian menggunakan Skyline (www.skyline.co.nz) . Diatas, selain kita bisa menikmati indahnya pemandangan, kita juga bisa bermain kereta luncur (Luge) dan makan siang dengan latar belakang kota nan asri.





Melanjutkan perjalanan dan tiba di Te Anau sekitar jam 4 sore. Te Anau juga merupakan kota yang terletak di pinggir danau yang tenang dan sangat nyaman. Kami pun bermalam di Alpine View Motel. Di Te Anau, tempatnya bagus – bagus walau judulnya motel.




New Zealand - Mimpi Yang Tak Pernah Padam (Hari 3 : Lake Tekapo - Wanaka - 9 September 2016)

Pemandangan menuju Wanaka tidak kalah seru. Selama membelah dan berjalan diantara pegunungan yang masih diselimuti salju tidak akan pernah terlupakan. Hamparan peternakan domba dan sapi menjadi pemandangan dan menu wajib yang menyegarkan mata. Jarak tempuh Lake Tekapo ke Wanaka sekitar 202 km menelusuri Lake Pukaki yang indah dengan air yang biru cerah.




Masuk kota Wanaka benar - benar membuat aku takjub. Danau Wanaka yang dikelilingi pegunungan dan air yang sangat bersih serta kota kecil nan rapi membuat aku ingin tinggal lebih lama lagi. Sayang sekali kami hanya semalam di Manuka Crescent Motel Wanaka yang sangat nyaman.

Sebelum ke hotel, kami sempat bermain salju di Treble Cone (www.treblecone.com) yang jaraknya kurang lebih 30 menit dari kota Wanaka. Setelah di parkiran, kami naik ke puncak gunung menggunakan kereta gantung yang rasanya ngeri-ngeri sedap. Maklum baru sekali menaikinya. Namun begitu tiba di puncak, rasa takut terbayar tuntas. Putih dan lembutnya salju, gunung dan danau bisa membuat mata tidak berkedip dan mulut mengucap kata syukur kepada Sang Pencipta. Sunggguh sangat indah. Puas bermain, kami pun kembali ke hotel.



Pagi menjelang, kami siap menuju persinggahan berikutnya menuju Te-Anau (via Queenstown). Tidak rela rasanya meninggalkan kota Wanaka yang indah dan nyaman. Serasa sebagian dari jiwaku telah tertanam dan tertinggal disana.




New Zealand - Mimpi Yang Tak Pernah Padam (Hari 2: Christchurch - Lake Tekapo - 8 September 2016)

Rute ini panjangnya sekitar 227 km. Kami berangkat dari hotel jam 10 pagi. Maklum kami semua bangun kesiangan karena lelap setelah penerbangan jauh dan nikmatnya tidur dengan hawa yang sangat sejuk.

Perjalanan menyusuri kota Christchruch lumayan menegangkan. Mengendarai mobil di negara asing dan rambu-rambu jalan yang baru sungguh membuat kami harus ekstra konsentrasi. Ga lucu khan kalau kita di tilang di negara lain.

Setelah keluar dari kota, kami menelusuri jalanan panjang yang dimana kiri – kanan banyak hamparan rerumputan hijau dengan domba, sapi, kuda dan rusa dimana-mana. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Alam membentang memamerkan keindahannya.




Udara menusuk tulang sehingga ketika turun di sebuah warung kopi di tengah perjalanan, badan harus diselimuti oleh jaket tebal dan sarung tangan.




Menelusuri jalan panjang nan sepi rasanya ingin berhenti setiap saat untuk sekedar memandang atau mengambil foto alam.



Masuk ke wilayah Lake Tekapo, kami disuguhi pemandangan danau yang luar biasa. Danau yang biru dan dikelilingi oleh pegunungan yang putih diselimuti salju. Kami mampir ke Gereja yang sangat terkenal dan menikmati pemandangan yang menyejukkan mata.





Suhu pada saat itu adalah 1 derajat celcius namun dinginnya mantap. Kami menginap di Lake Tekapo Motel & Holiday Park dimana kamar tidur terpisah dari dapur dan kamar mandi. Seru karena kami bisa BBQ ditemani bebek-bebek liar dan pemandangan alam yang sangat indah. 



Senin, 19 September 2016

New Zealand - Mimpi Yang Tak Pernah Padam (Hari 1 : Tiba di Christchurch - 7 September 2016)

Setelah tertunda 1 hari karena faktor teknis dipesawat, akhirnya Qantas yang kami tumpangi mendarat dengan selamat setelah sempat transit di Sydney. Sebenarnya walau kami pesan Qantas JKT-CHC-JKT, namun dengan berbagai ”jalan” yang kami lalui, akhirnya SYD – CHC kami menggunakan Emirates. Kenapa kami pilih Qantas? Kami lebih suka dan cinta Garuda Indonesia sih (tetep), namun sayang sekali yang melayani rute  JKT-CHC-JKT hanya Qantas yang paling murah.





Syukurnya pesawat tidak terlalu penuh dan hiburan juga banyak. Jadi terbang total 11 jam tidak terasa melelahkan. Anak-anak bisa tidur dan ibunya bisa menikmati kopi hangat dengan muffin nan lezat.

Sampai di Christchurh, kami disambut dengan dinginya cuaca. Angin bertiup kencang menembus jaket tebal yang kami gunakan. Setelah meminang si Subaru Legacy, kami menuju ke hotel pertama di Christchurch. Beginilah muka-muka bahagia dan kedinginan menginjakkan kaki di pulau impian.





Malamnya, kami di traktir makanan lezat dan ternyata porsinya besar banget. Aku yang berbadan besar aja tak sanggup untuk menghabiskannya. Steak yang menjadi ciri khas NZ tak sanggup ku bersihkan. Tapi rasanya tak akan terlupakan. 



New Zealand – Mimpi Yang Tak Pernah Padam (Persiapan)

Tiket sudah kami beli dan bayar lunas awal Mei, namun rencana liburan ini tetap kami rahasiakan sampai hari H ke anak-anak. Kejutan ceritanya dan mencegah anak-anak terlalu bersemangat.

Tiket selesai, saatnya buat Visa. Persyaratan visa ke New Zealand kami lihat di situs http://www.vfsglobal.com/newzealand/indonesia/. Nah disana lengkap semua persyaratannya.

Tahap berikutnya adalah memesan hotel. Kami berencana untuk melakukan perjalanan darat dari kota ke kota di pulau selatan. Ada sekitar 5 kota yang kami kunjungi yaitu Christchurch, Lake Tekapo, Wanaka, Te Anau dan Queenstown. www.Booking.com menjadi andalan kami untuk mencari dan memilih hotel. Karena tidak tahu nama-nama hotel disana, maka kami pilihlah yang dapat rating 8 keatas dari travelers. Family room menjadi pilihan karena kami ber-5 dan ada dapurnya. Biar bisa masak ceritanya. Terbukti lebih murah dan hemat.

Kemudian, pilih jasa rental mobil. http://www.apexrentals.co.nz/ menjadi pilihan karena harga relative murah, kualitas mobil terjaga dan tempat pengambilan dan pengembalian bisa fleksibel. Subaru Legacy menjadi pilihan dengan pertimbangan muat untuk 5 orang dan bagasi bisa 4 yang besar-besar.






Penting diketahui adalah kita harus punya SIM yang masih berlaku. Walau punya SIM Internasional (dengan biaya IDR 250 ribu). SIM Indonesia harus dibawa karena SIM Internasional dianggap hanya sebagai terjemahan saja. http://www.newzealand.com/id/driving-in-new-zealand/ bisa dilihat-lihat dan pelajari sebelum mengemudi disana.


Tibalah hari keberangkatan. Dengan penuh semangat dan doa, kami menuju tempat yang kami impikan. Untuk lengkapnya, bisa baca-baca di http://www.newzealand.com

New Zealand - Mimpi Yang Tak Pernah Padam

Kenapa New Zealand? Pertanyaan itu yang muncul pertama kali jika orang tahu rencana liburan kami. Orang-orang liburan ke Eropa, kok kami ke New Zealand.

Ini berawal karena pelajaran geografi. IPS tepatnya waktu aku belajar di SD dulu. Disana kita mempelajari peta dunia, negara tetangga dan apa kelebihan negara tersebut. New Zealand, ya Negara yang digambarkan dengan begitu indahnya dan populasi domba yang lebih banyak dari jumlah manusianya. Mungkin keunikan tersebut yang terekam kuat dalam memoriku sampai akhirnya aku memutuskan untuk melihatnya secara langsung. Aku juga ingat pernah baca sebuah artikel perjalanan wisata di sebuah surat kabar yang menceritakan keindahan alam disana bahkan sampai menuliskan sebuah kalimat ”mungkin Tuhan sedang berbahagia ketika menciptakan New Zealand”.

Semakin dalam keinginanku untuk kesana. Menabung dan membaca banyak referensi merupakan kewajiban untuk mewujudkan mimpi itu. Sampai suatu ketika kami bertekad untuk mewujudkannya tahun ini. Segala upaya dan perhitungan dilakukan dengan seksama dan tentu saja doa tak putus terpanjat. Syukurnya, dengan segala kegigihan dan doa, semesta pun mendukung kami. Mulai dari pesan tiket, Visa, hotel, dll semua lancar dan banyak memperoleh bantuan. Inilah pembuktian teori semesta mendukung (mestakung). Usaha + doa = berhasil. Yeahhhh kita berangkat ke New Zealand.

Jadi apapun mimpi kita, jangan pernah biarkan dia padam. Mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia (Nidji).