Minggu, 01 September 2019

Masih Seperti Yang Dulu

Sayang....
Walau mungkin tubuhmu tak secantik dulu
Kakimu tak sexy lagi
Payudaramu pun tak kencang lagi
Bahkan mungkin aroma tubuhmu terkadang tak menggairahkan

Tapi sayang...
Cintaku masih seperti dulu
Bahkan bertambah
Sayangku tetap sama
Bahkan lebih besar
Senyumku masih tetap ada
Tak akan berubah

Tahukah kamu,sayang?
Hanya fisikmu yang berubah
Tapi aku yakin hatimu, perasaanmu, pengabdianmu
Seumur hidupmu tidak akan berubah

Sayang
Mungkin di luar sana banyak wanita cantik
Yang beraroma menggairahkan, yang sedap dipandang
Tapi adakah yang seperti kamu?
Yang selalu ada untukku, bagaimanapun aku
Di luar sana banyak gadis muda yang lebih menantang untuk didapatkan
Tapi sama kah seperti kamu?
Yang siap menghadapi kehidupan pahit dan sulit bersamaku

Ingatlah sayang...
Saat kita berjuang bersama
Saat kita menangis bersama
Hanya kita berdua yang tahu
Hanya kita berdua yang rasa

Sayang...
Jika suatu saat ada yang menawarkanku gairah yang lebih indah
Percayalah, kamu pernah memberiku gairah yang sama
Jika suatu saat ada yang menggoda mataku untuk sebuah keindahan
Percayalah, kamu pun pernah sangat indah untuk ku pandang
Kamu pernah dan tetap menjadi yang teristimewa
Kamu pernah dan tetap menjadi sosok yang aku perjuangkan
Kamu pernah dan selalu mengisi mimpi-mimpiku
Tidak pernah berpikir untuk mencari penggantimu
Tak ada yang bisa mencintaiku sepertimu

Tetaplah bersamaku
Pegang selalu tangan ku
Menualah bersamaku... 

Hari Yang Akan Ku Kenang

Mataku menerawang jauh. Dengan earphone terpasang, kudengarkan lagu itu. Semakin kuresapi, semakin tidak siap rasanya hati ini.
Waktu seperti berlari dan tidak pernah kembali. Tiba-tiba tampak kedua putriku tumbuh besar. Ahh....baru kemarin rasanya.
Malam kemarin kubiarkan mereka tidur di bahuku. Ku tarik nafas perlahan dan kusyukuri nikmat ini. Aku tahu tak bisa selamanya aku memiliki dan memegang tangannya. Kelak, aku akan sendiri.
Tapi paling tidak, aku punya hari-hari yang akan ku kenang. Jika saat itu tiba dan aku harus menangis, maka akan kubiarkan dia mengalir dan dengan itu akan ku katakan pada dunia kalau aku bahagia....
#beautifulinwhite



Beautiful In White


Kadang kalau aku ingat kembali waktu itu, aku tersenyum. Bagaimana aku bisa punya keberanian untuk sekedar menyapa dan meminta nomor handphonenya. Jantungku berdegup cepat, kaki bergetar hebat. Entah dia tahu atau tidak ketakutan yang aku rasa, serasa tak mampu bicara
Tepat 9 bulan kemudian, dia menjadi pendamping hidupku. Aku sudah menemukan kepingan yang hilang dalam pencarianku. Sejak saat itu, setiap waktu yang aku jalani akan abadi, begitu juga rasa sayangku. Satu demi satu aku lalui bersama, sampai ujung dunia
Kubayangkan kedua putri ku, mereka memiliki tatapan mata sepertinya. Berharap mereka akan menemukan cinta dan kasih sayang seperti yang aku alami, merelakan mereka menuju pelaminan dengan aku sebagai pendampingnya. Saat itu tiba, entah apakah aku bisa menahan air mata atau sekedar berkata. Namun yang pasti, aku akan sangat bahagia. Mereka akan cantik dan anggun seperti ibunya



Sabtu, 13 Juli 2019

11 Tahun Bersamamu

“Lihat, rambutku semakin memutih dan tumbuh uban dimana-mana. Lihat, ukuran bajuku sekarang” Begitu ucapan yang berulang kali. Kadang aku dengar, sering kali aku cuekin. Tiba-tiba dia muncul tepat di depan mukaku yang sedang asyik menikmati cerita dari buku yang baru aku beli.
“Orang diajak ngomong malah ga jawab”, ucapnya manja. Hmm.. aku meletakkan buku dan mengambil sepotong roti bakar. Ku kunyah roti itu dengan perlahan sambil ku seruput teh hijau yang masih mengepul.
“Sejak aku kenal sama kamu dan memintamu untuk menemaniku, sudah banyak perubahan, perjuangan dan pengorbanan yang sudah kamu lakukan. Memberi, mengasuh dan mendidik 2 anak yang luar biasa, mendukung saat kakiku terasa lelah & lemah dan lebih bahagia saat aku bahagia. Nikmat mana lagi yang aku dustakan ferguso?”
“Nanti kalau ubanku makin banyak dan bajuku makin lebar gimana?” Ucapan itu meluncur cepat melesat. Lalu akupun menimpali “usia tidak bisa dilawan. Selama kita diberi kehidupan, dia akan tetap berjalan. Tapi ada satu hal yang bisa aku pastikan bahwa saat rambutmu jadi putih semua, bajuku bisa kamu pake, sayangku tidak akan berubah. Aku akan tetap menjadi orang yang paling mencintaimu”
“Aku selalu menikmati saat-saat merajut hari-hari bersamamu, sampai waktu berlalu. Biar hari ini selalu menjadi milik kita.  Besok saat kita tua, aku masih ingin memijat kaki dan punggungmu dan memastikan kamu masih bisa tertidur lelap. Saat hawa dingin menyerang dan panas menyengat, aku pastikan kita akan jalani bersama dan saling menopang”
Happy 11th anniversary. Saat kamu merasa sudah tidak ada lagi orang yang menyayangi dan mencintaimu, itu artinya aku sudah tidak ada di dunia ini lagi dan sampai jumpa di kehidupan yang lain. Tapi sekarang, mari kita menua dan tertawa bersama, hahahahaha….


Minggu, 09 Juni 2019

Sendiri

Seperti tahun-tahun sebelumnya, momen lebaran aku gunakan untuk bersilaturahmi dengan beberapa sahabat dan kerabat. Senang rasanya masih bisa berbagi keceriaan dan kebahagiaan lebaran bersama.

Dari cerita masa lalu sampai cerita tidak jelas mengalir lancar tanpa ada sekat. Kadang saling hina dan mencemooh merupakan bumbu yang tidak bisa terlewatkan. “Bud, lu ga mau nambah anak lagi? Udah tua ntar sepi dan sendiri loh”, begitu kawanku bertanya.

Kucoba membuka kue putri salju yang masih tersimpan rapat di dalam toplesnya dan masih terplester. “Kamu tahu kenapa pintu masuk ke Pura dibuat kecil dan hanya muat untuk satu orang?” begitu aku bertanya kepadanya.

Dengan tatapan heran, dia hanya menggelengkan kepala seperti tari India. “Pintu masuk Pura itu adalah simbol. Simbol dimana saat tiba waktunya kita menghadap Sang Kuasa, kita hanya sendiri tanpa ada yang menemani apakah itu teman, anak, saudara, harta benda dan hal-hal duniawi lainnya. Hanya amal dan karma yang setia menemani kita. Jadi intinya pada saatnya kita akan sendiri juga”, begitu aku mencoba menjawab pertanyaannya.

Ternyata toples kue salju itu di plester dengan sangat erat dan temanku hanya tertawa melihatku masih berusaha membukanya, hahahahaha 


Kamis, 06 Juni 2019

Kewajiban

Suatu hari seorang sahabat yang baru menikah berkunjung ke rumahku. Dia datang dengan istrinya yang sekelebat mirip dengan Luna Maya.

“Apa kabar, sahabat?” begitu aku membuka pembicaraan. Obrolan mengalir ditemani sepiring pisang goreng dan secangkir kopi 3 in 1. “Anak-anakmu udah pada gede-gede ya Mas Bud, cewe semua lagi. Senang nanti kalau udah tua ada yang ngurusin dan jagain. Aku juga kalau nanti punya anak, pengennya punya anak cewe”, begitu dia panjang berceloteh.

Ku ambil sepotong pisang goreng yang masih berasap. “Kita yang menginginkan mereka lahir ke dunia. Kita yang wajib merawat, mendidik dan membesarkan mereka. Kewajibanku sebagai ayah purna begitu mereka menikah”.

Sambil mengunyah pisang goreng, kuteruskan penjelasanku. “Kamu tahu kenapa aku dan istri membuat rumah yang simpel dan mudah diurus? Ini untuk masa tuaku nanti. Sejak sekarang, aku mulai menata hati dan pikiran untuk tidak membebani anak-anakku dengan “kewajiban” seorang anak. Bagiku, anak tidak punya kewajiban kepada orang tua karena mereka tidak berutang kepada ku. Begitu mereka menikah, mereka punya kewajiban terhadap keluarga mereka masing-masing. Pengharapan akan balas budi itu yang akan membuat kita nanti menderita”.

“Aku yang berhutang kepada mereka karena sudah menjadikan ku seorang ayah, peran yang sangat aku syukuri. Tanpa mereka, maka tidak akan ada diriku sebagai seorang ayah. Akan aku jaga dan genggam erat tangan mereka sampai tiba saatnya mereka siap aku lepaskan”, begitu aku menutup penjelasanku.

Aku melihat aura yang sedikit marah di wajah sahabatku itu. Akupun bertanya kenapa dia marah? Dia menjawab “kamu meminum kopi dari cangkir ku”

Lalu kami pun tertawa bersama, hahahhaha

Rabu, 05 Juni 2019

Persamaan

Disebuah warung kopi kecil di sudut kota, seorang teman bertanya kepadaku. "Bro, kamu ga takut anakmu bingung mengenai agama?" "maksudnya?" aku kembali bertanya.

"Di sekolah dia ikut pelajaran agama Budha. Trus ikutan ramadhan camp. Natalan, kamu memutar lagu-lagu natal di rumah. Khan beda-beda ajarannya", begitu dia menjelaskan.

Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya. "Begini", aku memulai pembicaraan. "aku membiarkan dia untuk mempelajari ajaran agama lain agar dia bisa menemukan persamaan dan bukan fokus pada perbedaan. Persamaan bahwa setiap agama mengajarkan kebaikan, mencintai segenap ciptaanNya dan selalu mensyukuri semua karuniaNya".

"Keyakinan akan nilai-nilai baik itu yang aku harapkan bisa dia temukan dan menjadi pegangan hidupnya kedepan", begitu aku menutup penjelasanku.

Lalu kamipun tertawa bersama, hahahaha